Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Maret 2015
Sebuah Bahan Introspeksi: Ulasan Film "PK"
Dunia film memang
menarik untuk diulas dan dijadikan bahan diskusi. Ada pro ada kontra, ada
evaluasi kadang juga sebagai bahan introspeksi. Produksi film di dunia juga
semakin meningkat tiap tahunnya, baik dari sisi kuantitatif dan kualitatif.
Semakin lama semakin bermunculan film-film yang mengandalkan teknologi tinggi
dalam pembuatannya dan memakan biaya yang luar biasa mahalnya.
Ada hal yang menarik
untuk dibahas pada salah satu film yang membuat penonton dari seluruh penjuru
dunia memunculkan pertanyaan. Pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan. Pemeran utamanya adalah Amir Khan, salah
seorang tokoh di “3 Idiots”. Film yang saya maksud ini berjudul “PK”.
Sutradaranya sama dengan film “3 Idiot”. Bedanya, sisi yang ditonjolkan dalam
masing-masing film. Jika film “3 Idiot” memaparkan kritik pedas terhadap sistem
pendidikan yang seringkali ditemui di kehidupan sehari-hari, maka film “PK” ini
mengambil sisi yang kemudian menjadi sorotan kebanyakan orang, yaitu sisi
Ketuhanan.
Sangat berani, kesan
pertama ketika saya selesai menonton film ini. Mengingat nilai yang menjadi
taruhannya adalah nilai Ketuhanan. Penggagas film ini sangat cerdas, agar tidak
ada agama yang memprotes film ini, penggagas film ini akhirnya mengkritisi
semua agama yang mempunyai pengikut paling banyak. Ambil contoh, agama Hindu,
agama Kristen, agama Islam.
Berangkat dari
pencarian Amir Khan (PK) atas remote pesawat luar angkasanya yang dicuri oleh
orang India yang membuatnya tidak bisa pergi kembali ke planet asalnya lagi. Ia
awalnya merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang baru di planet yang
menurutnya unik ini. Mempelajari sekitar sehingga dia akhirnya tahu cara
berpakaian yang baik, memperlakukan orang lain, bertahan hidup dan mencari
uang. Semua detail dari film “PK” ini membuat siapapun yang sedang menonton
merasa tersentuh.
Perjalanannya mencari
remote pesawat luar angkasa akhirnya yang membuat PK penasaran dengan
eksistensi Tuhan. Setiap kali dia bertanya dimana dia bisa mencari remote
pesawatnya yang hilang kepada orang-orang di Bumi, ia selalu mendapatkan
jawaban “tanyalah kepada Tuhan”. Hingga satu adegan yang menggelikan terjadi,
PK yang menemukan Tuhan berbentuk sebuah patung kecil, cara beribadah di tempat
ibadah yang berbeda dan unik. Hingga muncul istilah “salah sambung” yang
menggegerkan jagad Bumi India.
Saya mendalami film ini
dengan baik sama sekali tidak mau kelewatan detail film dalam tiap durasinya. Selama
menonton, selalu saja ada hal yang tak terduga membuat kita terbahak. Namun setelah
saya selesai menonton film ini, saya meneteskan air mata deras sekali. Entah atas
dorongan apa. Lebih jelasnya, saya telah dibuat tertampar oleh film ini, bahwa
menyembah Tuhan perkara yang mudah. Bahwa mengenali Tuhan kita, bukan perkara
yang mudah. Kadang hal kecil, kesalahan kecil yang kita lakukan bisa menjadi
bahan ejekan atau tertawaan orang lain. Hanya karena kita tidak tahu bagaimana
berkomunikasi dengan Tuhan, maka segala sisi kehidupan kita akan menjadi
berantakan, tak terarah, tak terbentuk dan tak beraturan. Oleh karena itu, film
ini sangat bagus, menarik dan recommended
untuk disaksikan sebagai bahan refleksi, perenungan dan introspeksi. Film yang
sangat unik, menarik, dan wajib untuk ditonton.
Minggu, 08 Februari 2015
Mengingat Mati
Sederhana sekali jika
ingin sejenak melupakan kelu. Berbicara takdir dan proses terjadinya. Hanya dengan
mengingat skenario indah Tuhan, otak akan berhenti bekerja untuk memaparkan
luka. Hanya dengan membayangkan betapa jauhnya kita dengan masa lalu, otak akan
berhenti mengungkit-ungkit debu dalam hati.
“Kita ini adalah
sekarang. Kita adalah akumulasi dari masa lalu. Masa lalu adalah sejarah tempat
untuk belajar proses terjadinya sesuatu. Masa depan adalah alasan kenapa esok
kita harus hidup”.
Senang bertemu dengan
kalian, pembaca yang setia..
Dua puluh tahun meneguk
napas kehidupan, dua puluh tahun telah banyak memakan rasa-rasa dunia. Saya lahir
bukan karena tanpa alasan. Bukan juga hanya karena satu alasan.
Orang-orang dimasa lalu
sering memanggil saya dengan sebutan bakpao, bakwan (pia-pia), dan sebagainya. Mereka gemas melihat pipi saya yang sejak lahir
sudah kenyal-kenyal tembem ini.
Saya malu jika ada yang
meminta kisah di masa lalu saya. Bukan hanya karena saya melukai banyak orang
dengan perilaku saya yang buruk, akan tetapi juga karena saya tidak mampu
menjaga diri saya dari perangai buruk saya sendiri. Berproses dari A sampai Z,
bukan sekata dapat kita lalui dalam hitungan detik, akan tetapi sehuruf mendalami
makna semusim, kemudian baru berganti huruf.
Hidup adalah musik. Indah
sekali didengar. Alunannya menggetarkan dada meski tanpa lirik, seperti alunan
lagu-lagu Yiruma. Buatlah musikmu seindah mungkin. Jangan berhenti di nada “do”
paling rendah. Gunakan irama, jangan sampai tanpa makna. Buat yang mendengarkan
kelak akan mengerti.
Saya dan keluarga yang
keras kepala.
Dua puluh tahun hidup
bersama, dan baru detik ini saya memahami mereka dengan begitu dalam.
Ayah. Maafkan anakmu
ini. Ketika engkau sakit-sakitan, aku malah sering meninggalkanmu. Maafkan anakmu
ini, tidak bisa tegas memprioritaskan keluarga. Kenapa engkau bohong dan tak
mengatakan yang sejujurnya? Bukankan seburuk apapun kondisimu tetap anakmu yang
bodoh ini harus tahu agar aku bisa memelukmu meski hanya dengan doa sederhana
saja? Maaf untuk terlambat mengerti ternyata engkau begitu peduli. Ketika aku
kesal dengan keputusan-keputusanmu yang kupikir egois aku selalu meluapkan
kemarahan detik itu juga dengan mendiamkan. Lalu kalimat ajaibmu membunuhku
dalam diam dan atmosfer menegangkan, “Kamu kenapa to marah terus sama Bapak? Mbok jangan gitu Bapak jadi sedih”. Luluh
anakmu ini. Menjadi butiran debu yang mengikuti kemana angin membawa.
Ibu. Alasan keringatmu
mengucur lebih banyak, adalah demi tidak mengecewakan banyak orang yang telah
membantu kita. Egois sekali jika hanya berpikir alasanmu adalah aku. Bahkan aku
sampai sekarang tidak mengerti engkau mendapat kekuatan dari mana bisa bertahan
sampai detik ini. Ibu harus tahu, kalau ternyata Ayah juga sangat sangat sangat
mencintaimu, Bu. Dia begitu keras kepala karena dia ingin melindungimu. Dia memang
tak punya apa-apa, tapi dia selalu memikirkan kebaikanmu, kesehatanmu. Mungkin saja
engkau kurang mengerti bagian ini, Bu. Tapi aku telah mempelajari skenario-Nya.
Maafkan aku Bu, saat ini belum menghasilkan banyak uang untuk mengurangi beban
yang harus kau tanggung.
Kakak. Tuhan
mengirimkan malaikat yang begitu sempurna dalam keluarga kecil ini. Malaikat yang
kuat dan selalu menjaga. Aku selalu berdoa kak, semoga engkau panjang umur dan
sehat selalu. Semoga engkau lebih panjang umur daripada aku. Semoga engkau
lebih sehat daripada aku. Terimakasih telah mau berbagi air mata ketika kita
mengalami skenario yang membingungkan hati.
Mengingat mati adalah
satu-satunya alasan agar kita bisa bersyukur masih diberi kesempatan menghirup
udara pagi esok hari. Aku sadar aku semakin tua. Aku pun berproses. Detak jantung
ini juga telah lama mengawani sejuta derap dan gelegar rasa.
Saat ini saya
sendirian. Saya takut melupakan Allah ketika sedang sendirian. Maka dari itu
saya menulis di sini.
Saya takut, tidak bisa
menikah karena lebih dulu meninggal. Saya takut, tidak bisa membangun rumah
yang besar kerena lebih dulu meninggal. Saya takut, tidak bisa menjadi penulis,
impian terbesar saya, karena lebih dulu meninggal. Saya takut, tidak bisa hidup
lebih lama untuk impian-impian besar saya.
Kenapa orang-orang
begitu sibuk, sehingga lupa mengingat mati?
Andaikan besok saya
mati, siapa orang yang paling sedih dan terpukul? Apakah calon suami saya? Apakah
teman-teman saya? Apakah dia? Atau dia? Atau jangan-jangan dia? Bagaimana dengan
keluarga saya? Apa mereka akan baik-baik saja?
Banyak sekali yang saya
takutkan akhir-akhir ini.
Di jalan raya.
Ketika lampu merah
menyala saya berhenti dan memandangi orang-orang disekitar. Mereka nampak terburu-buru
sekali. Mereka sangat percaya diri sekali. Mereka sama sekali tidak takut mati.
Ada yang mendesal-desal mencari celah agar lebih cepat mengejar waktu. Ada yang
berulang kali melihat jam tangan. Ada yang celingak-celinguk memperhatikan
sekitar penuh rasa khawatir. Ada yang tidak sabaran menunggu lampu berganti
dengan berkali-kali membunyikan klakson. Ada yang tidak relah membiarkan satu
motor lewat menyeberang ketika lampu telah menyala hijau dengan berteriak
kasar. Ada yang memanfaatkan kesempatan untuk menggoda orang lain yang
penampilannya agak mencolok dibandingkan pengendara yang lain. Beraneka macam
orang dengan satu kesimpulan, “mereka tidak takut mati”.
Saya hanya ingin coba
mengatakan.. Seberapa jauh kita dengan impian-impian yang kita kejar, adalah
seberapa jauh kita dengan Tuhan. Saya tidak mempermasalahkan saya di masa lalu.
Saya tidak membesar-besarkan saya di masa depan. Jalani hari ini dengan menghitung
syukur dengan jari-jari, lihat, tidak akan cukup jemari kita mewakili syukur
itu.
Jangan pusingkan
komentar mereka yang tidak mengerti masa lalu dan masa depan kita. Jangan ambil
hati pengecil hati yang selalu nakal melukai perjalanan dengan cemooh rendahan
khas pengecut. Kritikan adalah bahan untuk berbenah diri. Kita ini adalah apa
yang paling kita inginkan untuk menjadi. Terlalu banyak mendengar pujian juga
menyakitkan telinga. Terus tumbuh dengan hati yang selalu menerima syukur. Hidup
adalah hadiah dari Tuhan dari tiap milidetiknya. Hargai, nikmati dan syukuri
setiap harinya!
Jumat, 19 September 2014
Pemuda Mengakar
“....dalam hidup kita, semua datang sendirian
dan akan mati sendirian. Hidup bukan pasar malam, di mana kita datang dan pergi
bersama-sama....”-Pramoedya (dalam Bukan Pasar Malam).
Buruh Tani mahasiswa rakyat
miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia
Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa Orba
Marilah kawan mari kita tunjukkan
Ditangan kita tergenggam arah
bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu, tentang pembebasan
Dibawah tanah tirani, kulukiskan
garis jalan ini
Berjuta kali turun aksi, bagiku
satu langkah pasti
(“Buruh Tani”)
Sepenggal lagu yang siapa saja
yang mengaku pemuda akan meninggalkan jejak kegalauan yang mendalam ketika
mendengarkannya pun mengalunkannya. Sepenggal lagu yang siapa saja yang mengaku
pemuda akan mencipta garis sesegera mungkin untuk memimpin ketertinggalan,
mengeluarkan rakyat dalam kesengsaraan. Perih begitu melihat badan asing
menginjak-injak kehormatan bangsa dengan memprovokasi pemuda sebagai alat
kuasa.
Jauh di atas langit biru yang
membentang, telah banyak tanda-tanda bahwa pemuda tertulis disana sebagai
tongkat sakti dunia. Getar dan tegapnya dipertanyakan melalui gerakan-gerakan
sederhana yang memberikan hasil yang luar biasa. Engkau sentil debu, engkau
rubuhkan benteng. Engkau bersihkan kursi, engkau bernyenyak-nyenyak ria di atas
kursi parlemen. Tidak ada hal muluk lain yang harus dikhawatirkan karna engkau adalah
pembentuk kualitas hidup di dunia yang mengidamkan kebahagiaan yang sejati.
Penulis memang kadang irasional. Tidak
menggunakan logika dalam menjelaskan sesuatu. Mereka terkesan asal-asalan, yang
penting ngomong, caturan dan terlalu banyak bicara. Tapi tahukan bahwa
kebanyakan oleh apa yang mereka tulis adalah apa yang mereka alami dan rasakan.
Gerakan memang tak semudah
membalikkan badan. Kita bukan beruang yang mengalami hibernasi di musim dingin
sehingga nama gerak kita dinamai gerak musiman. Kita bukan juga si cebol yang
merindukan bulan. Kita tak pernah berharap kepada hal muluk akan tetapi
memiliki keyakinan kepada cita-cita bangsa yang tinggi demi tercapainya
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Penulis memang bisanya caturan. Memikirkan
hal-hal yang tinggi lalu menerbangkan impian, menghamburkannya melalui udara. Tapi
asal tau, hasil tulisan adalah apa yang kita serap, alami dan rasakan. Tidak ada
omong kosong yang sengaja kami tuang untuk provokasi.
Hijau sudah tidak nampak lagi di
Bumi Indonesia.
Ladang yang mulanya nampak segar
dijelajahi mata karena air sungainya mengalir sangat deras dan bening berganti
dengan tanah coklat yang kering renyah diinjak semut-semut ahli berpetualang.
Hingar bingar kota, lampu pijar
gedung-gedung pencakar langit menghiasi layaknya bintang-bintang kota yang
menggantikan angkasa. Ribuan anak jalanan memacu keterlibatannya terhadap waktu
dan batasan antara hidup dan mati. Ribuan orang tua mati nelangsa memikirkan
anak cucu yang kurang ajar membagi waktu berharga mereka untuk narkoba, rokok,
hura-hura, berfoya, nakal dan melakukan tindak kejahatan dalam bentuk apapun. Merusak
citra. Merusak susu.
Mereka-mereka yang menantang
munculnya kebenaran datang bersama dusta dan mengatasnamakan pemimpin sebagai
hal layak untuk disalah-salahkan. Saling tunjuk siapa monyet binaan para
penguasa. Siapa protokolir yang menggerakkan masa untuk isu yang murahan dan
menghancurkan harkat martabat bangsa.
Ketika segala telah dihamparan
mata. Nyata menyala-nyala, ketika itu..
Kemana para muda? Para pemuda?
Apa mereka sedang pergi belanja
di pusat perbelanjaan paling besar dikota, membeli label asing untuk mereka
kenakan sebagai mahkota, sebagai irisan kain penutup badan paling minim bahan
dan mahal harga?
Apa mereka sedang menusuk bola
billiyard untuk mereka jatuhkan di lubang meja panjang yang hitam kelam?
Apa mereka sedang mengagumi
wanita-wanita tengah malam dan membeli mereka dengan beberapa botol anggur
paling mahal?
Apa mereka pernah merasakan
kelezatan ketela pohon yang direbus empuk sebagai santap malam paling istimewa?
Apa mereka pernah merasakan
kasarnya telapak tangan ayah dan ibu mereka yang habis-habisan mencari uang
untuk sekedar makan tiga kali sehari, untuk sekedar membayar uang sekolah yang
makin lama makin mahal ini?
Tidak baik menuduh mangsa. Aku berbicara
dengan diri sendiri. Jadi tidak usah ada yang tersinggung.
Kamis, 18 September 2014
Mereka Jawa
Mereka-mereka adalah orang yang mengetahui dan bisa
mengekspresikan kehidupan, mereka adalah orang-orang yang memiliki kepedulian
dan yang mengetahui bahwa semua itu punya satu makna, dan hal itu sangat
penting untuk memahami kehidupan pribadi seseorang. Mereka-mereka itulah
orang-orang yang sering disebut dengan orang “Kejawen”.
Kebanyakan orang Jawa kental dengan mistisisme. Orang Jawa meyakini apa yang mereka alami di dunia ini
adalah akibat dari hubungan alam dengan Tuhan. Orang yang bisa merasakan
pertanda-pertanda dari alam hanyalah orang yang mau mempertajam hati untuk olah
rasa, biasa disebut dengan kebatinan
kejawen.
Orang Jawa terkenal dengan penalaran mistiknya, baik yang
berupa primbon dan juga pitungan. Dalam cerita-cerita mitologi
wayang terdapat falsafah hidup yang dalam, kebanyakan orang jawa menjalani masa
sekarang berdasarkan pelajaran dari sejarah dalam cerita pewayangan, misalnya
“Mahabarata”, “Bhagawat Giza”, Karno Gugur”, dan “Semar Boyong”.
Orang Jawa memegang teguh filsafat, “Jika manusia adalah
sebab utama bagi kondisinya, maka moral dan perilaku spiritualnya harus
diperhatikan”.
Dalam filsafat Jawa, ada tiga ungkapan penting yang harus
dipegang teguh:
1.
Rame ing
Gawe, mempunyai arti, melakukan perbuatan baik untuk kemaslahaan semua
orang. Tidak ada orang yang dapat berdiri sendiri. Asas Gotong Royong. Filsafat
ini terdapat dalam nilai Ekaprasetia Pancakarsa, alias Pancasila. Orang Jawa
suka berkelompok, melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama dan menanggung
penderitaan bersama-sama. Tradisi slametan,
kenduri dan tahlilan, misalnya.
2.
Mamayu
Hayuning Bawono, mempunyai arti,
menghiasi dunia. Manusia hidup tidak hanya sekedar mencari kebahagiaan untuk
dirinya sendiri, akan tetapi peduli kepada kebahagiaan orang lain. Mereka
memberi tanpa harap menerima. Bekerja giat dan memiliki etos kerja yang tinggi.
Orang Jawa mempunyai jiwa pemimpin yang tangguh dan unggul. Meskipun tegas,
kebanyakan orang Jawa adalah sosok yang lembut dan selalu menjaga perasaan
orang-orang disekitarnya.
3.
Sepi ing
Pamrih, memiliki arti, tidak mementingkan diri sendiri.
Poin pertamanya adalah RELA. Orang Jawa
mudah sekali merelakan bahkan hal yang menyakitkan sekalipun. Mudah dikecewakan
akan tetapi tidak mudah menaruh dendam.
Poin keduanya adalah MENERIMA. Kebiasaan
saling memberi dan toleransi yang tinggi kepada orang lain adalah prinsip yang
dipegang teguh masyarakat Jawa. Mereka senang sekali ketika bisa memberikan
buah kepedulian kepada tetangga dekat, kerabat dan sanak saudaranya.
Poin ketiga, SELALU INGAT. Masyarakat Jawa
susah sekali melupakan kebaikan orang lain. Mereka akan selalu mengingat dan
membalasnya dengan kebaikan juga.
Poin keempat, RENDAH HATI. Masyarakat Jawa
tidak suka menonjolkan kekayaannya. Sikap rendah hati adalah hal yang utama
demi mencapai kehidupan yang rukun antar tetangga dan masyarakat.
Poin kelima, BERSAHAJA. Masyarakat Jawa
menjunjung tinggi rasa gensi, malu dan subasita
(aturan perilaku). Masyarakat Jawa memiliki sikap “alon-alon waton kelakon”. Bertindak
tanpa terburu-terburu, akan tetapi menyelesaikan tugas dengan baik.
Poin keenam, PRIHATIN. Masyarakat Jawa memandang
orang kaya bukan orang yang memiliki uang banyak lalu dihambur-hamburkan, akan
tetapi orang kaya adalah orang yang pandai bersyukur dan mampu mengendalikan
nafsunya untuk bersikap konsumtif.
Menurut masyarakat Jawa, Conscience
memiliki arti suara hati, yang dapat diartikan sebagai kesadaran atas orang
lain, atas penglihatan, komentar dan kritik yang mempengaruhi posisi seseorang
dan penghargaan terhadap status seseorang.
Masyarakat Jawa juga meyakini adanya Ukum pinesthi. Yaitu, segala ciptaan
harus menempuh garis yang sudah ditetapkan.
Disini dijelaskan, Peristiwa tidak terjadi
secara kebetulan, akan tetapi merupakan manifestasi dari kekuatan-kekuatan
tersembunyi dalam wujud “kebenaran”. Peristiwa baru merupakan persimpangan (co-inciding) yang berarti,
bayang-bayang yang tak terhindarkan. Dari sinilah muncul tradisi pitungan.
“Manunggaling Kawula-Gusti”, memiliki
makna, kemanunggalan antara hamba dengan Tuhan. Disini dijelaskan untuk
mencapai ingsung sejati atau “aku
yang sejati”.
Pada suatu sore, Rama mendengar percakapan
yang sangat mendalam antara pemilik villa dengan penjaga villa.
Penjaga villa mengatakan:
“Hubungan kita adalah bukan hubungan”. “
Keadaanku adalah ketiadaanku”.
Pemilik villa mengernyitkan alisnya
kemudian berkata: “Apa maksudmu?”
Penjaga villa mengatakan:
“Tidak ada maksud apa-apa, hidup
sekedarnya, bahagia sebesarnya”
“Dan Mati???”
“Ialah kalau kita tak lagi punya gerak”
“Dan engkau tidak takut?”
“Justru yang paling tidak menakutkan”.
Percakapan sederhana yang mempunyai
filosofi kehidupan yang tinggi dan mendalam. Buku karangan Pramoedya “Bukan
Pasar Malam (1951)” dijelaskan, dalam
hidup kita, semua datang sendirian dan akan mati sendirian. Hidup bukan pasar
malam, di mana kita datang dan pergi bersama-sama.
Begitu pula dengan Kredo Rendra,
Kemarin
dan esok
Adalah
hari ini
Bencana
dan keberuntungan
Sama saja
Langit
di luar
Langit
di badan
Bersatu
dalam jiwa
Oleh: Pipit Septiani (diambil dari, Buku “Mistisisme
Jawa” karangan Niels Mulder).
Langganan:
Postingan (Atom)













