Stars

Bintang adalah nama lain dari keindahan. Bagi siapa yang menguping pada angin yang berbisik takdir kepada sang langit, maka ia akan tahu rahasia besar bintang. Sebagai obat rindu.

Moon

Bulan adalah lambang kesetiaan. Sama seperti bintang ketika mengitari. Ia tak pernah ingkar janji dan akan selalu beredar. Sayang, kadang remang, kadang bersinar terang sekali. Kadang bulat utuh, kadang sabit sekali. Waktu adalah nyali keutuhan. Dimana dia berlindung, disana rahasia hati mengitari.

Rain

Hujan adalah rahasia besar. Tidak ada yang tahu kapan akan tiba dan kapan akan berhenti. Apakah datangya mengundang gemuruh langit atau hanya menyusuri lembut kulit. Tapi kesakitan hujan dapat membuat rindu menyeruak. Tak akan ada yang bisa menolongmu. Selain naungan tinggi dari Sang Maha.

Metamorfose

Kita adalah hasil dari metamorfose. Hanya kita yang tahu, siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses pendewasaan diri kita masing-masing. Bagian dari Rahasia.

Ocean

Tidak ada yang tahu apa yang tersimpan di dalam sana. Entah arus yang mematikan atau ikan-ikan menakjubkan yang tenang berenang.

Selasa, 05 Agustus 2014

Untuk Aku.






Terang dan sehabis ini tidak akan ada apa-apa lagi.

Kasar dan tak perlu ditambah apa-apa lagi.

Seperti berjalan mendaki gunung tertinggi. Tanpa perbekalan. Tanpa segendul minuman.  

Jalannya menukik dan dehidrasi bukan berarti apa-apa lagi.

Seperti mengisap kaktus di gurun tandus. Tidak ada apa-apanya lagi.

Panas yang tak tanggung-tanggung menguliti habis seluruh tubuh.

Rasanya terik tak pernah berhenti mengitari.

Hadirmu mendelik. Terlalu sial tak siap aku untuk digampari.

Bayanganmu tak berbadan. Anehnya selalu dapat dengan jelas aku amati.
Bayanganku tenggelam dalam lamunan. Tak kosong, ini hasil pikir panjang.
Tak disangka ternyata yang selama ini aku genggam hanya tanah ompong.
Tak disangka ternyata yang selama ini aku junjung hanya omong kosong.

Pikir lagi,

Jatuh cinta dengan orang yang engkau kagumi? Yakin itu namanya cinta? Seperti kebanyakan orang yang sama-sama kagum dengan orang yang engkau jatuh cintai? Yakin itu namanya cinta? Atau hanya kagum?

Hah. Sia-sia.

Jangan-jangan ini hanya perasaan kekaguman? Jangan-jangan ini hanya perasaan suka biasa?
Yang mana yang rasanya cinta? Engkau sakit atau engkau terkagum-kagum dengan pesonanya. Kehilangan akal sehat??

AH mual aku. Lebih betah bicara angka daripada pusing karna huruf.

Ini bulan ke delapan. Ini tanggal ke lima. Ini tahun ke dua ribu empat belas. Ini semester ke lima.
Lebih mudah bicara angka kan?
Sedangkan yang tak aku mengerti tentang apa-apa membuatku harus mengenal tari-tari a-b-c-d—z.

Sakit ya sakit tapi itu kan bukan apa-apa.


Bagaimana jika..
Kita tidak bisa melihat surga.. bahkan mencium baunya??

Jadi jika yang selama ini aku pandangi adalah kenyataan yang mengharuskanku untuk berpaling darinya.. maka..

Ajari aku memeluknya disurga-Mu kelak.

Ajari aku untuk betah dengan rasa panas duniawi untuk mengejar surga- yang banyak orang damba-dambakan. Ajari aku untuk tahan dalam setiap dekap rindu, delik, desah, dera, duka, dahaga, duga, damba, derma, dakwa, dan detik yang menelan mentah-mentah keabadian.

Lagi,

Seperti berjalan diatas gurun pasir tandus, tanpa alas kaki. Tanpa perbekalan. Tanpa segendul air.
Teriknya menguliti.

Sungguh ini duniawi yang penuh fatamorgana.

Tanpa api disembur dari nyala bebatuan, tanpa suara-suara pekikan meminta untuk dihabisi sesegera mungkin, tanpa berita-berita tentang adanya kanan dan kiri, adanya Tuhan yang Maha dengan tuhan yang tiri, adanya kisah dan adanya kasih.. Tanpa berita-berita itu, maka

Kita dan bayangan yang menghujat kita akan bertingkah semaunya.

Mencintai semaunya.

Mengasihi semaunya.

Menyukai semaunya.

Memuji semaunya.

Memberi semaunya.

Memiliki semaunya.


Lain.

Jika kita punya telinga dan banyak mendengar tentang berita-berita yang dibukukan dalam AL-Quran., maka kita dan bayangan yang menghujat kita akan bertingkah seolah kita:

Mencintai semuanya.

Mengasihi semuanya.

Menyukai semuanya.

Memuji semuanya.

Memberi semuanya.

Memiliki semuanya.

Tak adil rasanya jika perasaan yang orang sebut cinta ini, seutuhnya kita berikan hanya untuk seorang manusia yang entah bisa mendengar melihat dan merasa atau—tidak.
Jika kita mencintai manusia, cintai semuanya. Jika kita mencintai semuanya, kita dicintai Tuhan. Jika kita dicintai Tuhan, maka Tuhan akan menuntun kita untuk menuju surga-Nya—yang dijanjikan. Jika kita memasuki surga-Nya maka, kita bebas memeluk dia yang selama ini hanya bisa kita rengkuh dalam sekejap mata.

Jadi, ada alasan lagi untuk patah hati??


Tidak.

Karna terik panas dunia hanya sementara. Sama seperti sakit hatimu yang hanya sementara.
Tidak ada alasan untuk cinta. Tidak ada alasan untuk tidak cinta. Tuhan mencipta hati dengan sungguh-sungguh, penuhi dengan ketulusan.. maka insyaAllah jalan cinta dan cita-cita kita akan mulus. Dengan syarat: 





Selalu mengaharapkan Ridha-Nya.

Ini nasihat untuk diri.

Senin, 14 Juli 2014

Formasi



14 Juli 2014
Apa yang penting? Tidak ada.
Oh ya, tidakkah kalian liat bintang yang terpasang pada malam hari ini?
Begitu terpapar luar biasa indah tak dinyana-nyana. Kemerlap, penuh kata-kata harapan, mimpi-mimpi dan—mungkin rindu yang menjelma menjadi dingin.
Oh ya, tidakkah kau tersenyum ketika melihat bulan dengan nyala sempurna malam ini?
Begitu bulat, terang benderang, cahyanya terpasang, menyiratkan sinar yang menawarkan kata lain dari rindu—yaitu kehangatan. Ketahuilah makna kehadiran sesuatu. Nikmati semesta, syukuri alangkah indahnya dunia.
Aku kadang hanyut dalam emosiku sendiri. Kekalutan yang kubuat sendiri.
Aku kadang hanyut dalam emosiku sendiri. Kedamaian yang kucipta sendiri.
Ada berapa wajah yang tersenyum karena memandangi langit malam ini? Aku yakin, mereka-mereka itu orang yang mudah mencintai. Orang yang selalu memakai hati untuk perasaanyang dalam—hanya untuk perasaan yang dalam.
Maafkan aku untuk wajah yang selalu aku sakiti, lewat kata-kata, perilaku, emosi, kekecewaan yang aku lampiaskan.. sebenarnya semua bukannya tidak beralasan.. ini murni caraku memproyeksikan diri.
Sulit ternyata mengatur perasaan,
Aku lanjur menaruhnya dalam kesungguhan.
Apa seharusnya aku mundur saja?
Bukan keluh yang mau aku suguhkan kepada wajah-wajah itu.
Bukan tanda akan menyerah yang mau aku persembahkan pada wajah-wajah itu.
Bukan caci, maki yang mau aku limpahkan pada wajah-wajah itu.
Bukan melucuti mereka dengan pecut supaya mereka berlari lebih cepat.
Bukan kegagalan yang mau aku tunjukkan pada mereka.
Hanya—tanggung jawab kecil. Menjadi makhluk Tuhan yang mengemban amanah di pundak.
Aku pernah menyesal untuk tidak menjadi orang baik. Setidaknya aku telah menjadi sekarang—yang tak pernah mati dibuai masa lalu.
Berlindung dibawah ketiak malaikat yang selalu menghujaniku dengan seribu doa tersemat.
Aku beruntung sekarang. Teramat sangat beruntung memiliki kalian. Perasaan ini lah yang ingin aku tunjukkan kepada kalian.
Bukan kalian terpaksa memantaskan diri berdiri disampingku.
Bukan kalian tersulut emosi kecilku.
Hanya—aku yang seharusnya proporsional. Profesional.

Malam hari yang dingin bukan? Dan taukah? Ada berapa banyak bintang yang terpasang?
Begitu banyaknya, tapi yang kulihat hanya sepuluh paling terang.
Ini formasi apa?
Apapun lah.

Aku selalu merasa beruntung memiliki kalian. 

Sabtu, 05 Juli 2014

Aku menemukan jawabannya

Aneh.
Dimana kau menyimpan perasaan-mu? Di kantong kemeja merah marun yang selalu kau lipat lengannya sampai siku itu? Di saku celana kain hitam-mu kah? Atau di dalam kepalamu yang selalu dikelilingi bayang-banyang optimisme masa depanmu yang cerah itu? em. Atau mungkin.. kau memang tak memilikinya.

Kau tau? Aku tidak mengerti apapun tentang pemikiranmu tentang garis keras kehidupanmu, apalagi perasaanmu. Memangnya seberapa jauh aku mengenalmu?

Kau tidak pernah membiarkanku berjalan beriringan denganmu. Kau selalu di belakang, dan aku di depan, kadang sebaliknya.
Kau juga tidak pernah membiarkanku duduk tepat berada di sampingmu. Pasti ada satu orang menghalangi. Atau kau yang lebih dulu menjaga jarak.
Kau juga tidak pernah tersenyum lepas untukku. Selalu ada alasan lain untuk itu.

Tak terhitung lagi.
Berapa kali aku mempertanyakanmu di hadapan Allah.

Baru beberapa hari ini aku menemukan jawabannya.

Oh ya, aku harus bercerita.

Ibuku. Ini kali pertama aku menceritakan masalah hatiku padanya. Kau tau? Aku sudah jatuh cinta berkali-kali. Baru kali ini aku luas mencurahkan isi hatiku padanya, tentangmu.
Kau tau apa jawabannya?

"Jangan terlalu berharap. Dia terlihat cuek. Tidak begitu meresponmu"
"Apa tidak ada lelaki lain? Lelaki yang dekat-dekat sini saja? Sama suku?"
"Ibu sama sekali tidak masalah. Perasaanmu kamu yang menentukan. Tapi, coba pikirkan lagi, dia bagaimana menanggapimu? Kalau tidak ada respon, sudahlah.. nggak usah"

Ah, ya, akhirnya aku menemukan jawabannya. Aku memang harus mendengarkanmu, bu. Aku akan.
Terlebih Allah banyak memberikanku kesempatan untuk lebih memantaskan diri. Jadi, urusan siapa kelak yang akan duduk disampingku mengikrarkan janji suci itu, itu urusan Allah. Aku hanya-harus memantaskan diri.

Aku merasa menang dan lebih tenang dengan jawaban ini.
Aku menerima kehadiran-Nya. Menyusupi tiap jengkal nikmat yang selama ini melekat di diriku.
Aku merasakan kehangatan-Nya. Dzat yang aku tidak pernah bisa bayangkan Maha Besar-Nya.
Aku merasa ditopang ketika berkeluh kesah dalam rukuk.
Aku merasa disayang ketika sujudku meneteskan air mata.
Aku benar-benar merasakan dzat-Nya, andai kalian tau.

Sejak itu aku merasa tidak perlu takut lagi menghadapi perasaanku sendiri.
Penting saat ini, menaruh harapan benar-benar pada tempatnya, yaitu Allah. Dia tidak akan membuat kita kecewa, bukan? Lain jika kita menaruh harapan kepada misalnya seorang lelaki yang kita gilai. Akhirnya kita akan kecewa dan menyalahkan Tuhan beserta takdir-Nya.

Aku menemukan jawabannya.
Semoga aku dapat berpegangan pada ini.

Aku mengutip kalimat seseorang kepada seseorang,
"Sampai bertemu, ditakdir Allah"
Aku sudah tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Hanya perlu melakukan perbuatan yang TEGAS.

Kamis, 26 Juni 2014

TULISAN yang tak Menyentuh [hatimu] !!!


Sumber gambar: antiliberalnews.com

Tanganku menengadah. Payah-
Kataku aku akan menyerah denganmu
Kataku kau sungguh tak terkejar lagi
Kataku kau sungguh melelahkan..
Kataku aku akan mengenyahkanmu.

Hatiku ingin aku tak menyerah dengamu
Hatiku tau kau akan bisa kumiliki
Hatiku tau kau akan selalu menguatkanku..
Hatiku ingin aku menjagamu.

Ada saat dimana aku lelah berperasaan.
Kenapa aku harus selalu jatuh cinta dan patah hati?

Aku ingin sekali menggantimu. Tapi jatuh cinta sungguh bukan persoalan yang mudah. Bagaimana bisa? 
Apakah ada kata ganti lain selain "kamu"?

Apa kau buta mengartikan lamunanku? Apa kau buta melihat tingkahku yang selalu aneh denganmu? 
Apa kau buta bahwa aku telah berdiri disini sejak dulu!! Sejak kau tak bisa melihat perasaanku. 
Bukankah sekarang kau bisa melihat perasaanku dengan jelas? Tapi kenapa kau diam dan bersikap dingin seperti itu? 

Menyakitkan, sungguh. Kalau kau ingin tau rasanya
Seperti ini



Hari ini hujan tanpa mendung. 
Aku menduga tak akan ada pelangi. 
Aku menduga tak akan ada artinya cemburu ku ini.


Aku takluk. Kau sungguh mempesona untuk banyak wanita.
Ya, dan hanya jika aku ini-
seperti apa yang kamu inginkan, aku akan bersamamu.
Tapi sayang, aku tak tahu orang seperti apa yang kamu inginkan.



AKU JATUH CINTA
lagi 
Menengadahkan tanganku untuk ku isi dengan doa-doa penuh pengharapan. 
Aku akan sakit jika tak bisa memilikimu. Seandainya kau tau.. 
AKU ini APA untukmu??


Aku mati langkah.
Tak bisa tentukan arah. Angin bahkan mengejekku. Terus berputar-putar dikepalaku. 
Dadaku sesak dan harus berulang kali diisi udara. Kau tau ini adalah bukti, aku tak pernah main-main dengan perasaan. 



Aku akan sangat merindukanmu. Dan akan ada banyak wanita yang merindukanmu, kan?
Kau senang? 
Aku jadi tak bisa berhenti berjika-jika.


Aku mengurung diri dengan tulisan-tulisan tentangmu.
Aku ingin tau alasan kenapa kau mau "bertahan" disini
apakah karena aku, atau karena wanita lain. 

Aku sudah berkali-kali menghukum perasaanku.
Agar tidak mengharapkanmu lagi. Agar buru-buru melupakanmu. Agar mencari penggantimu.
Aku sudah!!
Tapi- kurasa itu hanya angan kosong.

Aku sudah berkali-kali menghukum perasaanku.
Agar mengungkapkan perasaan ini padamu. Agar memastikan hatimu.
Ah- Aku tak berani. 
Nyaliku menciut. 
Mulutku bungkam begini saja.



Aku melihatmu dengan sangat sempurna.
Yang kulakukan memang hanya bisa berpuisi dengan kertas kosong ini- Juga berdialog dengan Tuhan. 
Aku tau kau tak sederhana. 
Hatimu tak akan tersentuh dengan kata-kataku
Tubuhmu refleks menjauh kala ku ingin dekat denganmu
Matamu berputar dan menghindar ketika senyumku ku umbar dihadapanmu- dan seketika waktu berlalu sungguh cepat sekali. 
Aku pusing dengan tingkahmu
Kabur dan tidak jelas. 

Tegaskanlah hatimu, biarkan aku melihat perasaanmu juga!!!
Ini tak adil bagiku kau tau?!!


Sabtu, 31 Mei 2014

Finnaly..




Mau tau apa yang kurasa?
Rasanya semuanya lengkap sudah.

Puzzle yang berceceran kini saling menyatu.
Mencipta satu bentukan baru.
Dan kau tau?
Semuanya ternyata tidak sempurna. Meskipun nampak sempurna.

Beberapa hari yang lalu, dalam kotak makan tempat—segala menuangkan rasa. Aku tidak terlalu suka membicarakan pekerjaan. Aku diam dan mendiamkan.
Pembicaraan itu muncul ke permukaan. Pembicaraan yang muncul dari sudut pandang laki-laki dan perempuan. Ternyata laki-laki dan perempuan itu benar-benar seperti Mars dan Venus. Berbeda. Sayang sekali. Apalagi dalam memandang perasaan.
Kau lelaki yang sempurna sekali. Ya, aku semakin kagum. Tapi aku tidak suka. Tidak suka mendengar pembicaraan malam itu.
Aku jadi tau kan kalau kau sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa padaku. Aku jadi tau kau tidak akan memberikan respon apapun karna memang kamu—tidak.
Kau bilang dirimu punya prinsip? Seberapa besar prinsip itu membatasi perasaanmu??!!
Kau bilang mengejar karir? Kau pikir aku punya waktu untuk memikirkan hal yang aneh ini??!!
Kau bilang tidak pernah menangis karena perasaan? Tapi kenapa kau bertanya hal yang sangat membingungkan tentang perasaan sayang yang menyakitkan??!! Pikirkanlah.
Kau bilang kau cermat mengambil langkah dalam mengejar cintamu? Kau pikir kau sedang berbicara kepada siapa??!!
Kau bisa dengan mudah memandang suatu hal, dan tidak terlalu terbebani oleh perasaan semacam ini? Apa yang kau INGINKAN!
Kau tau awalnya aku tidak akan menyerah? AWALNYA

Aku tidak bisa menahan senyum terlalu lama. Aku menginginkan mu, pun kehadiranmu, tapi kau yang dinyana-nyana tidak pernah menunjukkan, setidaknya memberikan respon. Sedikitpun tidak. Bahkan menyatakan dengan tidak tersurat bahwa dirimu makhluk sempurna yang tak memiliki perasaan apapun kepadaku, ya kan?

Hari ini lengkap sudah.
Susunan Puzzle itu kini membentuk bentukan yang sempurna.
Aku jadi tau apa yang harus aku lakukan.

Masa menunggu ini akan ku akhiri. Sama seperti waktu kita menunggu keberangkatan menuju suatu tempat. Ketika masa itu datang. Kita sama-sama pergi. Aku juga akan seperti itu. denganmu. Kamu? Bukankah sudah pergi lebih awal? Mendahuluiku?

Malam itu bintang-bintang bak lampu-lampu yang terpasang di langit dan menunjukkan kemegahannya. Itulah kenapa aku sangat suka sekali pantai. Suara ombaknya!!
Setelah perjalanan yang panjang itu, akhirnya terbayar sudah.

Aku mencurahkan isi hatiku pada seorang teman. Sungguh, aku berharap kau mendengarnya. Tapi kau asik dengan mereka, ternyata.
Ada berkali-kali bintang jatuh. Kuyakin kau juga melihatnya kan?
Tapi kau tak melihat perasaanku di balik sana. Di balik formasi Taurus.  Ini Mei kan?
Aku menggantungkannya pada bintang yang paling terang, Aldebaran. Bintang yang terpasang dengan gagahnya, seperti Taurus itu sendiri.

Ketika mentari mengagetkanku dengan cahayanya dari ufuk timur.
Aku mulai berhenti menalar perasaanku.
Dan membiarkan ini apa adanya.

Aku tak mau menceburkan diri ke dalam laut karena itu hanya akan membuatku semakin larut dalam perasaanku sendiri. Aku diam dan mendiamkan.
Silahkan kau dengan gaya sesukamu.. Aku lebih suka menikmati kebahagiaanmu daripada menuntutnya langsung darimu.

Terik. Matahari mulai meninggi.
Dan aku masih melihatmu. Ahaahhhaaah. Tapi kamu tidak. Ya, aku tau!
Aku memegang namamu. Menulis satu kata, yang pasti kamu tau apa itu artinya.
Kau tau apa yang bisa membuatku merasa sangat jatuh hari ini?

Seseorang membiarkanku tau kalau aku ini “gampangan”. Entah apa itu artinya.
Aku harap yang memberitahukan lewat tulisan itu bukan kamu. Ya kan? Eh?

Satu kata itu tercatat dan terekam jelas di otak. Sampai sepanjang perjalanan pulang aku terus-menerus memikirkannya. Introspeksi diri.
Aku tidak tau jelas. Semuanya samar.
Berulang kali aku mencari perilaku mana yang menggambarkan kata dalam tanda petik itu?? aku sama sekali kosong. Aku hanya beribu kali berharap bukan kamu yang menuliskannya.

Aku hanya perlu memperbaiki diri. Berusaha lebih keras lagi.
Aku tak akan menunggumu lagi. Aku biarkan ini begini adanya.
Aku harus fokus mengurusi pekerjaanku.
Mengurusi hobi ku.
Aku harus tak punya waktu lagi untuk menunggumu. Silahkan kau mau bagaimana aku akan ikhlas menerima.
Jangan ragukan perasaanku. Kapanpun kau bilang ingin mendampingiku aku akan bersedia.
Pun ketika kau berada disisi orang lain, aku akan bersedia—melepaskan.
Aku tidak akan menunggumu lagi.
Dan aku tidak akan ragu-ragu dengan perasaan ini.

Yang ku bisa lakukan adalah berproses untuk menjadi manusia. 

Rabu, 21 Mei 2014

Tau?




Tau?
Bagiku, jarak bukanlah apa
Tau?
Aku pernah menjalaninya dalam jarak yang lebih jauh terbentang

Dan Tau?
Rasanya itu sakit
Tau kenapa?
Itu datangnya dari hati.
Bukan dari tempatmu berasal. Bukan dari tanah kelahiranku pula.
Tau?
Bukan masalah tempat
Atau waktu yang memisahkan
Atau membuatnya terlihat berbeda
Atau membuatnya jauh di khayal
Tau?
Sudah kubilang
Ini masalah hati.
Datangnya dari sini (hati)

Tau?
Rasanya tak adil.
Ya. Tunggu dulu.
Tak adil.
Tau?
Kenapa hanya kau yang tau perasaanku?? Sedangkan aku tidak pernah tau perasaanmu??????
Tak adil.
Kenapa hanya aku yang salah tingkah??
Sedangkan kau tidak pernah mengalami kecanggungan ini??
Tau?
Kenapa kau bisa begitu biasa saja.
Sedangkan aku selalu tak karuan.

Tau?
Adil??
Adil??? He???

Langit mudah sekali membolak-balikkan perasaan.
Kadang aku bisa sangat benci sekali melihatmu-ketika sedang bersama wanita lain.
Kadang aku bisa netral sekali denganmu-ketika kau bahagia dengan orang lain disekitarmu.
Kadang aku bisa grogi sekali di dekatmu-ketika hanya ada aku dan kamu di suatu tempat dan waktu.
Kadang aku bisa sangat sayang sekali kepadamu-ketika melihat senyummu.
Kadang aku ingin sekali memeluk erat dirimu-ketika aku sendang sendiri dan sedih.
Kadang aku bisa lebay sekali di depanmu-ketika aku coba menutupi perasaanku.
Kadang aku bisa sangat marah sekali denganmu-ketika sedang tak memperhatikanku.
Tau??

Kenapa rasanya seperti ini?
Karena telah lama aku jatuh kepadamu.
Berkali-kali
Dan tetap jatuh hati.
Berkali-kali mengelak
Dan tetap jatuh hati.
Berkali-kali menghindar
Dan tebak??

Aku masih jatuh hati!!!!

Dan kupikir. Semoga..
Aku berhenti denganmu. Aku menjadi milikmu.

Tau?
Karena Allah telah menciptakan perasaan ini.

Jadi akan ku kembalikan kepada-Nya.

Kamis, 15 Mei 2014

Kamis



Kamis,
Debu-debu jalan yang bercampur dengan asap kendaraan.
Hari ini kau murni kelelahan..
Aku tahu kau sempat protes, kenapa?
Seharian ini ada yang membuatmu berpikir sangat keras kan?
Ya, Aku membaca mimikmu.

Kau tau malam ini bulan sempurna?
Eh. Tidak. Tidak!
Bulan tak sempurna tanpa bintang. Meski ia utuh sekalipun.
Bulan meski tak utuh sekalipun. Sempurna karena ada bintang.

Kau tau ibuku sangat senang sekali?
Sepertinya kau tak tau kalau aku telah bercerita sedikit tentangmu. Bahayanya aku takut kau menyerah dengan perasaanmu.
Kau tau ada yang sedang aku perjuangkan disini kan? Kau tau aku sangat bisu sekarang?
Kau tau aku sangat tidak ingin sering bertemu denganmu karena itu membuatku selalu merindukanmu.

Ku katakan ini pada jalan panjang yang ku lalui.
Bersama dengan hisapan asap knalpot kotor.
Bersama dengan tiupan angin kendaraan yang melalui.
Beberapa tangan mengeluh di pinggiran. Mereka pudar bagai awan. Aku pun lelah menyetir. Kau tau perjalanan Klaten Jogja sangat jauh. Bagiku. Sekarang kau lihat? Tempatku dan tempatmu begitu juga.
Amat jauh.
Ya, apalah itu. Kita berbeda.
Kau begini dan aku begitu.
Aku seperti ini dan kau seperti itu.
Aku diketawai kesungguhanku padamu. Diuji juga.
Beberapa lelaki berlalu dan pergi. Dan lihatlah, hanya kau yang bertahan. Eh. Ku pertahankan.
Kau lihat? Pucuk merah di lapangan hijau melayu.
Ya. Itu karena ia tak betah dengan musimnya.
Kau lihat? Aku pun juga akan melayu.
Ya. Itu karena aku tak betah dengan sikap tak acuhmu.
Ya, ini lah wanita. Banyak mau nya, susah dimengerti kata-katanya. Itu yang ada di pikiranmu, kan?
Kau harus belajar bagaimana mengungkapkan perasaan.
Jangan aku terus yang maju.

Beberapa kali kutangkap senyummu. Sembunyi-sembunyi aku dapat merasakan kebahagiaan itu. Tapi kau berusaha menyembunyikannya lagi. Aku gusar karena tak pernah melihat wajahmu menatapku, kau berpaling dan terus seperti itu. Ayolah jangan gugup lagi. Aku paham kamu, kamu juga harus memahamiku. Bukan hanya paham sikap dan tingkahku yang berlebihan ini, terutama jika kau ada di sekelilingku.
Aku selalu menghitung detik yang kita habiskan untuk saling berbicara. Tak pernah lebih dari lima menit.
Aku selalu menghitung detik yang kita habiskan berdua. Tak pernah lebih dari lima belas detik.
Selalu pergi. Pergi. Menghindar. Ya, kan?

Aku lelah tapi ingin sekali mencurahkan ini. Ijinkan ya?
Aku selalu membohongi kata-kataku.
Judul blogku sebelumnya aku berjanji tidak akan menulis hal tidak penting seperti ini. Tapi ini masalah hati. Yaa Tuhaan.
Maafkan.
Pikirkanlah..
Berikan detik lebih lama lagi untuk kita saling bicara. Dengan begitu kita bisa saling memahami.

Berikan detik lebih lama lagi untuk kita duduk, tak apa berdua. Jangan selalu menghindar dan banyak alasan. Dengan begitu aku bisa membaca hatimu.