Stars

Bintang adalah nama lain dari keindahan. Bagi siapa yang menguping pada angin yang berbisik takdir kepada sang langit, maka ia akan tahu rahasia besar bintang. Sebagai obat rindu.

Moon

Bulan adalah lambang kesetiaan. Sama seperti bintang ketika mengitari. Ia tak pernah ingkar janji dan akan selalu beredar. Sayang, kadang remang, kadang bersinar terang sekali. Kadang bulat utuh, kadang sabit sekali. Waktu adalah nyali keutuhan. Dimana dia berlindung, disana rahasia hati mengitari.

Rain

Hujan adalah rahasia besar. Tidak ada yang tahu kapan akan tiba dan kapan akan berhenti. Apakah datangya mengundang gemuruh langit atau hanya menyusuri lembut kulit. Tapi kesakitan hujan dapat membuat rindu menyeruak. Tak akan ada yang bisa menolongmu. Selain naungan tinggi dari Sang Maha.

Metamorfose

Kita adalah hasil dari metamorfose. Hanya kita yang tahu, siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses pendewasaan diri kita masing-masing. Bagian dari Rahasia.

Ocean

Tidak ada yang tahu apa yang tersimpan di dalam sana. Entah arus yang mematikan atau ikan-ikan menakjubkan yang tenang berenang.

Rabu, 12 Februari 2014

Refleksi

Sempat bulir bening membuyarkan refleksi tentang aku beberapa tahun yang lalu.
Aku adalah kenangan yang hilang dari memori seseorang. Mereka lupa caraku memperjuangkan diri demi mereka. Memperjuangkan diri untuk berubah menjadi burung pipit yang tidak kecil lagi. Begitulah...

Sempat dalam luang detik yang memuntahkan 'aku yang dulu' menggerogoti isi organ paling kusam ini. Hati.
Kekecewaan yang berulang kunikmati sampai mati.
Khayal adalah teman kerja terbaik.
Cita ku tergantung saja di atas, hendak menyerupai angin yang tak berwarna lagi. Tak kan ku biarkan.

Sejarah membuktikan kesanggupanku melawan diriku sendiri.
Aku kesejahteraan yang neko-neko ku lakukan sendiri.
Aku muda yang tak tahu diri.
Dan aku dibayar dengan kekecewaan ini.

Seorang Superior menandatangani di awan, surat keputusan untuk membiarkanku merenggut kembali apa yang dinamakan dengan 'kebenaran'
Ya, dan aku mendapatkannya.
Jadi lah aku yang sekarang.

Betahlah dalam pengakuan atas kekalahan, kesalahan mu sendiri.
Air mengajari kita betapa sucinya kejujuran.
dan selalu akan ada kesempatan untuk berbenah diri.

Aku bukan kesempurnaan yang diimpikan.
Aku bukan kepastian yang ditunggu.
Aku bukan teriakan yang dirungu.
Aku hanyalah kebaikan untuk diriku sendiri.
Aku adalah sepasang mata ini.
bergerak seirama,
kadang menelan kekecewaan juga.

Aku sudah senada dengan-Mu, ya Allah.
jadi biarkan pelukku ini sampai pada-Mu.
Jangan biarkan orang lain mengecewakanku lagi. Meskipun aku dipantaskan untuk itu, ya?

Sabtu, 08 Februari 2014

Tidak ada makna apa-apa dibalik tulisan ini, tidak bermaksud untuk apa-apa juga.

Sinsitifitas satu orang dengan yang lainnya sungguh berbeda-beda.
Kawanilah mereka yang memusuhimu, maka cahaya perdamaian akan menuntun langkahmu untuk semakin dekat dengan tujuan.
Sebaiknya, berhati-hatilah dengan teman-teman terdekatmu, karena hanya merekalah yang berpotensi besar untuk menghancurkanmu.

Sebenarnya apa sih yang mau saya utarakan?

Kaki saya lama-lama capek juga. Harus kejar waktu. Belum lagi beban yang harus saya bawa kemana-mana. Junjung tinggi tanggung jawab. Sedangkan saya hanya mahasiswa biasa. Mahasiswa biasa yang harus memperlakukan semua orang dengan baik.

Saat menulis ini mungkin saya sudah tidak lagi menangis, tersedu atau kecewa.
Tapi saya bahagia, nantinya saya akan menjadi orang yang "pernah berada di tengah-tengah kalian".
Suka tidak suka, dimana ada kalian, saya ada.
Saya nggak tahu kalian masih menganggapnya seperti itu atau tidak. Dan saya juga nggak peduli.

Saya paling benci dikhianati oleh seorang teman dekat. Terdekat. Dobohongi dan di dusta-i. Pukulan yang keras semasa saya baru mengenal persahabatan.
Anehnya saya tetap saja gampang percaya kepada orang-orang.

Saya percaya seleksi alam. Saya harus dipertemukan dengan orang-orang yang salah dulu, baru saya belajar untuk mencari teman yang benar-benar bukan teman biasa. Demikian tetap saya menganggap siapapun yang pernah bersama-sama dengan saya, dia mempunyai kehadiran yang sangat penting, dan berarti.


Pertama nih..

Buku diary saya pernah di-ekspose di depan kelas oleh sahabat terdekat saya. Akibatnya, semua orang tahu tentang perasaan saya kepada seseorang yang demikian kuat saya jaga rahasianya.
Kalian bisa bayangkan sakitnya, pengkhianatan itu. Orang yang saya sayangi jadi menjauh, karena malu mendengar kata-kata pujian dan cinta saya kepadanya diketahui banyak orang. Begitu besar perasaan malu yang saya tanggung dan beban yang muncul karena cibiran orang-orang yang tahu rahasia saya. Mereka memandang remeh perasaan yang saya tulis pada buku diary itu.


Saya memusuhi sahabat saya itu sekitar dua tahun lamanya. Saya mengikrarkan diri untuk tidak lagi berhubungan dengannya tentu setelah kejadian itu.
Sejak itu saya benci pengkhianatan.

Tapi lihat,
Siapa orang yang sampai detik ini masih memikirkanmu, memikirkan kehidupanmu wahai sahabat? Saya.
Saya ingin sekali menemui anakmu dan memberinya sesuatu. Tapi mohon maaf, belum saatnya. Saya harus sukses dulu agar engkau merasa bangga pernah mengenalku.
Saat ini saya baru bisa mendoakan, semoga kau, anakmu menemukan sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan gagah berdiri diatas keringat yang diperasnya sendiri. Kehidupanmu akan lebih baik lagi. Saya percaya.


Saya belajar dari itu.
Belajar lebih berhati-hati mengelola persahabatan.


Saya termasuk orang yang perhatian, kan?



Mengamati tingkah laku seseorang dengan detail dan mendalam.
Saya tidak ingin salah lagi menilai seseorang.
Saya adalah badut yang memakai topeng dan pakaian buncit.
Agar sesama merasakan, betapa lucunya kehidupan itu.

Dihina? Direndahkan? Saya sering.
Tetangga itu adalah orang yang mengaku keluarga, akan tetapi tidak sepenuhnya mengeluargai.
Dibicarakan adalah hal yang biasa. Dibenci juga wajar.
Tapi maaf, saya makhluk Allah yang tinggi kedudukannya di dunia, sama seperti yang lainnya. Tidak pantas untuk direndahkan.
Jangan kaget.
Saya pernah dikatai,
"Anak nakal"
"Anak bodoh. Tidak lolos masuk sekolah negeri"
"Anak tukang *****"
"Sok pintar"
"Tidak pernah tersenyum!"
"Wajah pemurung! bodoh"
"Anak miskin"
"Sok kaya"
"Jelek"
"ngaca"
"Nggak pantas kamu!"
"Wih punya baju mahal"
"Ibu kamu tuh *****"
dan bla bla bla. Saya sampai takjub dengan olokan mereka.

Nggak nyangka kan?
Itulah tetangga. Bermacam-macam bentuknya. Untung, saya seorang badut.
Kenapa mereka senang sekali mengurusi urusan orang lain? Sampai-sampai lupa mengurus diri.

Tapi lihat,

Tanpa olokan mereka, saya tidak mungkin mempunyai semangat seperti ini.
Terimakasih, tetangga.




Sekarang..
Apalagi?

Dituduh mencampakan persahabatan? Ya, saya sering. Dibilang "sekarang sombong" dan lain sebagainya. Saya kenyang sama kata-kata itu.

Dengar, bukan karena kalian tidak baik maka saya jauh dari kalian. Semua yang saya kenal adalah orang-orang baik, hebat, dan paling berkesan.
Saya hanya sedang mencari, masih mencari seseorang yang bisa saya ajak susah dan senang bersama-sama. Tidak hanya maunya senang bersama tok. Itu bukan Sahabat namanya.
Saya tidak mencari teman yang cantik, atau pinter, atau kaya kok. Bercita-cita mempunyai teman yang bisa diajak SUSAH dan SENANG bersama-sama apa salah?
Dan yang pasti, teman yang mengerti saya dan selalu mengingatkan saya tentang kebenaran.


Mungkin kalian mulai merasa tulisan ini nggak penting.
Tapi tulisan yang nggak penting ini adalah sebagian dari hal-hal yang pernah membuat saya menangis. hehe.


Apalagi?
Diomongin? Dibenci? Haduh..
nggak usah dibahas disini. Orang ada yang nge "like" pasti juga ada nge "dislike" kan?, jadi terserah kalian yang menilai saya. Saya kan hanya objek penilaian kalian.

Apalagi?
Disakiti?
Sering.
Disindir?
Sering.
"Temen apaan? Maunya sama orang-orang pinter tok. Dasar Diskriminatif"
Saya pernah dengar kata-kata itu dari mulut teman yang pernah sangat dekat dengan saya.
"Siapa kamu?"
Sindiran yang bikin saya makin kuat.
"wah mentang-mentang udah bisa apa-apa sendiri, sekarang nglupa"
Hemmm......... ini sering keluar masuk telinga saya.
Emang salah ya hidup mandiri? Tidak menyusahkan orang lain?
Tapi terimakasih, saya berhutang budi kepada kalian yang susah-susah berusaha membantu saya--dengan IKHLAS. Semoga.


Apalagi nih?
Oiya masih disakiti.
Sekarang saya kurang apa coba?
Saya punya seorang sahabat. Dan saya pernah suka sama seseorang yang covernya mulus, lebelnya positif, tapi isi di dalamnya negatif.
Sangat negatif. Saya melihatnya melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya untuk dilakukan bersama dengan sahabat saya.
Saya ikhlaskan dia. Beri dia nasehat. Memaafkan dia. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena saya sadari dia punya potensi yang besar untuk mencapai puncak karir. Pendidik yang superior. Otak yang kinclong. Dan saya sadar betul dia tetaplah teman saya, dan saya bertanggung jawab atas itu. Saya diamkan dia supaya berpikir bahwa yang dilakukan itu salah. Saya memaafkan dia karena kasihan dengan dia. Saya dekati dia karena saya peduli, tidak ingin dia mempunyai musuh.

Tapi lihat,
Dia dengan angkuhnya berjalan diatas jembatan paling terang menuju cita-citanya.
Ikut menganggap enteng saya dengan tatapan culasnya.
Sangat menyakitkan.

Tidak apa.
Tanpa dia, saya tidak akan belajar untuk memaafkan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi.

Dan yang terakhir.
Saya mungkin mengecewakan beberapa orang karena keputusan saya.
Saya sadar betul ini keputusan yang buru-buru.
Dan saya sadar betul ini kesempatan yang akan menjadi kesempitan jika saya tinggalkan.

Berada dalam dua organisasi, dan amanah yang sama-sama besar.
Saya tidak mungkin meniggalkan salah satu.
karena dua organisasi ini tempat saya belajar.
Hanya ingin SEMPAT sebelum SEMPIT.

Ternyata malah membuat banyak orang khawatir saya tidak akan amanah dan maksimal di keduanya.
Jujur, saya sendiri masih goyah,
tidak tahu harus bagaimana nanti.
Tapi lagi,
ini lah yang namanya belajar.
Keduanya akan menyibukkan saya. Dan inilah yang menjadi alasan terkuat saya kenapa saya berada di keduanya.

Saya tidak mau sibuk memikirkan hal-hal yang membuat hati saya lemah. Yaitu, jatuh cinta.
Semoga dengan waktu sempit saya. Saya tidak akan menangisi laki-laki, berharap lebih dan mengemis cinta lagi. Saya nggak akan punya waktu untuk itu. hehe
Itu masih harapan, dan komitmen saya di tahun ini.

Saya ingin di tahun ini, saya mendapatkan jejak pembelajaran dari kedua organisasi ini.
Sehingga, di tahun mendatang, saya hanya tinggal memikirkan tugas akhir, dan fokus menyelesaikan kuliah.
Setelah ini saya akan lepas dari keduanya. Dengan perasaan bahagia dan penuh hasil, yaitu pembelajaran yang luar biasa.

Saya paham mereka kecewa dengan ini. Tapi maaf, ini untuk kesehatan hati saya.
Dengan sibuk, saya tidak akan mengurusi hati saya yang sering menangis karena terlalu sering berharap. hehe.


Semoga tidak ada yang membaca ini ya? Ini rahasia.
Sebenarnya saya malu menuliskan ini. Mungkin ini kurang objektif karena ini cuman opini dan perasaan dari saya sendiri.
Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian mengenai ini.
Ini hanya teriakan yang mengganggu pikiran saya selama berhari-hari.
Jadi mohon dimaklumi dan jangan terlalu dianggap apa.


Hai..


-saya yang merindukan kalian semua-

Jumat, 07 Februari 2014

LOTUS


Bunga Teratai tidak Selamanya Jatuh di Air

Pertama kali aku denger pepatah itu.. nggak tau kenapa aku langsung mengangguk, senyum tipis, ehm. Mendalami. 

Filosofi ini dari pandanganku sendiri, maksudku, pandangan dari seorang Pipit yang tidak tahu banyak tentang bunga Teratai. Jadi, ijinan aku sok tau kali ini hehe.


Pepatah dari bahasa sansekerta ini menurutku jleb banget. 

1

2

3

Bunga Teratai..
Persilakan aku merangkai kata-kata cupu-ku untukmu

Diri mu, menyembunyikan keindahan di atas air yang keruh itu. Mana ada orang yang mau mempersilakan kekasihnya untuk memetikmu wahai Lotus? Mereka takut merusak keindahan yang terpasang. Engkau tertutup dan menutupi. Jauh dari jangkauan dan jauh dari sentuhan. Bahkan jauh dari tanah tempat manusia meninggalkan jejak.

Engkau berteriak dalam keruh. Tapi hanya disanalah kau dapat hidup
Engkau selalu mempertanyakan mentari, tapi sayang tak pernah sejengkalpun meraih hangatnya

Engkau menyembunyikan rahasia lain dari dasar air itu.
Cinta sejati, Ketulusan, dan Keberanian Menunggu. Kudapati dari luapan keindahanmu, tersirat karna itu.

Lotus, kau deskripsi hatiku saat ini. 
Aku tak pernah terpampang, hanya terus-menerus berbisik. Kau tak pernah pamer keindahan, hanya terus-menerus mengutarakan isi hati pada sang gelombang. Tanpa tahu rasanya daratan. 

Lotus, kau tidak akan selamanya jatuh di air, ketika masa habismu tiba,
Aku yang akan mengubah takdir itu, 
memetikmu 
untuk kekasihku.
Membawamu ke daratan.
dan membiarkanmu merasakan kedamaianmu sendiri disana. 

Kau tahu, aku kadang ingin berada di tempatmu juga.

Aku suka caramu melindungi rahasia di bawah sana. Aku suka caramu merendah, padahal nyata-nyata kau adalah keindahan cinta sejati. 
Aku suka caramu bertahan untuk sekedar merasakan kehadiran mentari.
Aku suka caramu membuat orang-orang penasaran.

Kau tau? Mungkin seseorang dengan hati yang bersih.. dia mencintaiku, merindukanku, dan ehm--mungkin memimpikanku. Dan dia memikirkanku saat ini.................. membaca tulisanku yang tak berarti ini..

Aku sama seperti orang-orang yang tertarik dengan keindahanmu yang menyihir. 
mereka pasti sangat ingin memilikimu,
membawamu ke daratan, 
meskipun mereka tahu, kau akan mati disana.

Terakhir,
Lotus...
Tapi kau tidak akan mati di tanganku.. aku akan menjagamu.. dengan berbagai cara 

agar tetap hidup.

Kamis, 23 Januari 2014

The Secret of Crazy Little Thing Called Love


Kau tau kan aku tak pernah berhasil memberitahu hatiku.. bahkan dari tatapan mataku yang seadanya ini... Aku hanya berani berkata-kata lewat tulisan. Sedangkan bertemu langsung denganmu membuat kata-kata itu mati.


Ketika jatuh cinta, kau tau? Hatiku, seperti irama lagu Yiruma yang beradu dengan hujan lebat sore tadi.


Dan seperti biasanya, aku hanya bisa menyembunyikan semua kebenaran, dalam hati.


Benar, aku mencintai mu. Berkali-kali, dan tetap denganmu. Ya, aku mungkin bodoh. 


Aku bertahan. Sakit memang. Aku ingin sekali mengakui perasaan ini. Tapi aku tidak dapat memperlihatkan perasaanku yang sebenarnya kepada siapapun.





Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah, menunggu di sini, agar kamu membuka mata hatimu dan menemukanku dengan caramu sendiri.




Aku mengumpulkan keberanianku untuk menyembunyikan ini, bersikap biasa saja ketika bertemu. Aku harus menahan semua tentang hal yang aneh ini. Seperti permintaanmu, ya kan?






Kau tau rasanya sendirian dan tak dihiraukan? Jangan pedulikan aku kalau suatu saat aku lelah. Untuk mempertahankan perasaan yang menurutmu semu ini.

Tapi ingat, aku tidak bisa memaksakan takdir ketika Dia tidak memilihku untukmu. Pada saat itu lah aku harus menyerah, lelah menaruh harapan.




Aku tak bisa mendengar hatimu. Kenapa kau susah sekali ku tebak?




Melihatmu dari kejauhan. Caraku menahan ini. Sekaligus melepas kangen.




Kau tau aku punya rahasia?




Aku pemimpi terbaik. Aku memimpikan, berarti aku pasti bisa meraihnya. 
Aku punya keyakinan. Tapi batasan takdir tetap berlaku.

Jika aku bukan untukmu, mungkin aku kurang sempurna untukmu.




Aku mencintaimu, sekali lagi.
Apa kamu tau? Ini untuk yang terakhir aku memberitahukanmu lewat kata tertulis. Ini rahasia.








Apakah kamu, juga begitu?



-Terimakasih untuk mau menjawab itu. Semoga sampai ke hatiku-
Aku
Masih punya rahasia.

Kamis, 12 Desember 2013

Payung Peyok

Apa alasan seseorang menjauh kalau dia tidak sedang menaruh keistimewaan pada hal lain ehm mungkin orang lain?


Aku Jawa, dan mungkin banyak hal yang tidak sesuai dan dinilai berbeda.
Aku berkedudukan dan mungkin dia tidak ingin duduk bersandingan lagi.
Aku masih berpayung dan dia memutuskan untuk pergi ehm mungkin ke payung yang lain.


Payungku tak lagi istimewa. Mungkin karena sudah berlubang, lama dan lusuh. Begitulah..


Payung orang lain bisa jadi lebih besar, hangat, dan melindungi. Mungkin lebih aman juga.

Payungku lebih gampang terbawa angin juga.

Payungku tak lebih kuat juga.

Payungku tak membuatnya nyaman.
Ya Tuhaan.. tapi ini musim hujan bukan?
Aku memutuskan untuk bertahan dalam payung ini karna dulunya dia pernah berada disini..
Dan sekarang sudah tidak.


Ya Tuhaan ini musim hujan kaan?
Dia butuh payung.
Bodoh!!
Dia punya payung yang lebih istimewa!! Tolol. Tolong mengerti!


Aku tidak suka ketika hujan datang dan payung ini tidak dapat melindungiku dari basah.


Aku tidak suka ketika alasanku untuk "ada", pergi.
Bagaimana bisa aku menahan perasaan seperti ini he?


tidak melihatnya dalam beberapa waktu seperti ingin meledak saja.

bagaimana bisa dia pergi dan memilih payung lain? Menyiksa he?

Apa jaminan seseorang merasa aman di payungku?

Apa jaminan seseorang mendapatkan perlindungan di payung peyok ini?

Aku terus saja dibanjiri! Tapi dia santai saja!


Tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan perasaan tak berbalas seperti ini.
Tidak ada gunanya lagi menaruh harapan pada hujan yang dengan sadis menjatuhi.
Tidak ada alasan lagi untuk menariknya kembali ke payung ini. Tidak ada!


Ya Allah, aku mencintai-Mu lebih dulu kan?
Kenapa tidak kau ambil saja semua perasaan ini?
Biarkan aku netral pada semua orang.
Aku tidak meminta seseorang di kategorikan special di hatiku.


Menyakitkan.


Aku sudah hening, tapi hujan tetap saja berisik!!
Aku sudah sabar, tapi payung ini tetap membuatku basah!!

aku mengakui hukum berlawanan.
dan kalau aku tidak bisa membencinya kenapa aku harus mencintainya?

Aku benci cinta yang bertepuk sebelah tangan.
CInta yang tak terungkapkan.
Cinta yang bodoh dan tak bertuan.
Aku kasihan pada diriku sendiri yang tidak bisa menahan perasaan semenjengkelkan ini!!!

Silahkan pergi ke payung yang lebih kuat, istimewa dan aman.
Aku tetap disini.
Aku tidak tahu apakah ini semacam kecaman, protes atau apalah.
Aku mencintainya dan aku benci untuk ini.
Benci untuk tidak tahu bagaimana dengan perasaannya dan benci untuk membiarkan dia tak mengerti kebodohanku.


Aku hanya punya aku. Tuhan. Dan mungkin keluarga yang harmonis.


Aku hanya punya payung yang sudah peyok.

Apakah dia masih mau?
Bodoh.

Tentu saja!


TIDAK AKAN.

Selasa, 12 November 2013

Janji-Nya

Assalamualaikum.
Apa kabar calon imam ku?

Aku kangen.

Tiap detik tiap mili detik,
mata ini memproyeksikan laku mu
Aku sudah meminta ampun pada Allah
Tapi berkali-kali. Dan aku tak bisa apa-apa.
aku harus mengheningkannya.

Senyuman yang tergambar indah dengan lekukan yang sempurna
Menilik sejuta harapan, yang ditekan.
Senyuman yang khas dan menawan
Ya Allah aku tanya,
Apakah dia malaikat yang menyamar?
Aku jatuh cinta kepadanya..
Sesak.
Bisik setan menggangguku.
Aku harus mengheningkannya.

Terus menyala,
bintang yang tak selalu nampak itu..
Dia ingin redup
Mempersilahkan yang lain mengisi cahayanya
Tapi, untuk terus melanjutkan ini
Terasa menyakitkan ya Allah
Apalagi karna aku harus..
Berulang kali, harus
Berkali-kali
Harus selalu
Mengheningkannya

Bagaimana sesaknya ini
Terus menekan..
Otak tak perlu mencari arah lain untuk alasan yang tak masuk akal ini
Aku hanya mencintainya.

Ketika tidak ada alasan lagi untuk berada di sampingnya
maka, gerak hati tertuju pada satu prinsip
Menguji keyakinan. Percaya janji-Nya.
Perempuan yang baik untuk Laki-laki yang baik pula.
Allah tidak mungkin ingkar.

Imam, aku jaga hatiku.
jangan sampai salah dalam mencintai-mu

Kalaupun engkau tak kesini dan menjauh, menemui wanita yang lebih solehah daripada aku
Maka aku ikhlas.
Engkau Lelaki baik, Sudah pasti akan dimiliki Perempuan yang baik pula.

Aku hanya perlu memperbaiki diri.
Meraih kesempurnaan yang Allah janjikan.

Senin, 11 November 2013

Amiin

Berita kegembiraan turun dari Yang Maha Kuasa. Bulir-bulir bening yang terisi ucap doa tiap tetesnya.. mengalir dan merasuki tanah yang merindukan sang langit. Kini ia dipeluk erat. Lewat dingin.

Allah, aku galau. Galau. Tapi terimakasih telah menurunkan hujan sederas ini..
Jadi semua terjawab..

Aku lelah mencintai dengan cara yang salah. Aku kembalikan semua urusan kepada-Mu. Biar hatiku beristirahat untuk hal yang memusingkan seperti ini. Biar pikiranku fokus dan jiwa ragaku semakin dekat dengan-Mu. Tidak ada lagi keragu-raguan. Bismillah.. aku yakin, Engkau tidak pernah mengingkari janji. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dia laki-laki yang baik, aku hanya perlu menyempurnakan iman dan berproses menjadi insan yang ikut memancarkan cahaya surga.

Ya Allah, dentum jantungku semakin kuat ketika aku sampai ke tahap ini. Tidak ada lagi keragu-raguan. Aku percaya ini persoalan yang sudah diatur dari langit.

Ini semakin deras.. Alhamdulillah..

Ya Allah, lindungi jodohku dari dingin hujan malam ini..
Mungkin ia mulai merasakan bahwa ini rindu..

Maafkan aku Allah, untuk mencintai dengan cara yang salah selama ini. Aku bodoh sekali.
Tapi, bukankah perasaan seperti ini memang bodoh? Kebodohan yang aku sukai.

Melihatnya dari kejauhan, hanya sebatas punggung saja sudah cukup mengguncang hatiku..
Tiap detik tiap menit tiap hela nafas ini selalu saja ada pertanyaan..
Apakah kita akan berjodoh nanti?

Laki-laki itu sempurna sesempurna otak diciptakan.
Dia lelaki baik, sudah pasti untuk wanita yang baik pula.
Dan aku....
mungkin belum.

Berkali-kali aku menangisi hal payah seperti ini. Menangisi seorang lelaki.
Tetapi baru kali ini aku merasa benar-benar Kau peluk ya Allah..

Aku usang tanpa-Mu. Debu tak berwujud.

Tidak akan aku ulangi cara yang sama.
Aku ingin jemari-Mu semakin membelaiku ketika aku mulai galau, h sebenarnya rindu..
Aku ingin bisa mencintai lelakiku Karena-Mu ya Allah. Aku belajar.

Aku akan diam. Aku memutuskan untuk diam. hanyut dalam keheningan. Seperti suara rindu yang samar karena rintik hujan. Seperti Fatimah yang menjaga kesucian hatinya untuk Ali.
Aku bukan Fatimah..
Aku hanya aku yang saat ini berproses.

Aku mencintai-Mu. Amiin
Aku mencintaimu. Amiin