Stars

Bintang adalah nama lain dari keindahan. Bagi siapa yang menguping pada angin yang berbisik takdir kepada sang langit, maka ia akan tahu rahasia besar bintang. Sebagai obat rindu.

Moon

Bulan adalah lambang kesetiaan. Sama seperti bintang ketika mengitari. Ia tak pernah ingkar janji dan akan selalu beredar. Sayang, kadang remang, kadang bersinar terang sekali. Kadang bulat utuh, kadang sabit sekali. Waktu adalah nyali keutuhan. Dimana dia berlindung, disana rahasia hati mengitari.

Rain

Hujan adalah rahasia besar. Tidak ada yang tahu kapan akan tiba dan kapan akan berhenti. Apakah datangya mengundang gemuruh langit atau hanya menyusuri lembut kulit. Tapi kesakitan hujan dapat membuat rindu menyeruak. Tak akan ada yang bisa menolongmu. Selain naungan tinggi dari Sang Maha.

Metamorfose

Kita adalah hasil dari metamorfose. Hanya kita yang tahu, siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses pendewasaan diri kita masing-masing. Bagian dari Rahasia.

Ocean

Tidak ada yang tahu apa yang tersimpan di dalam sana. Entah arus yang mematikan atau ikan-ikan menakjubkan yang tenang berenang.

Minggu, 11 Mei 2014

Gugur



gambar: tiangawan.com

Seseorang berikan aku seikat daun kering
Kalau dia hancur karena remasanmu
Dialah aku
Kalau dia menguatan diri untuk mempertahankan bentuk dalam remasanmu
Sayang sekali, itu bukan aku

Beberapa ditiup oleh angin, oh tak apa.
Beberapa mengikuti udara pun tak apa.

Jatuh dan sering kali tak dipedulikan
Harga murni tak di sandang.
Hanya seonggok dalam sekumpulan
Hanya secuil dari kumpulan yang terbuang

Mentari mengelabuhimu
Dia janji katanya hujan
tapi dia menyuguhi gerah
Tak jadi hijau
malah kering kerontang.
Dan pusing dalam beberapa hari
kau terjatuh di atas tanah.

Daun
aku manis memandangmu
lelap akan lamunanku sendiri
aku perih merasakanmu
rasa akan rindu yang tak bisa ku miliki sendiri
beberapa hari ini
aku mencetakmu baik-baik dalam ingatanku.
Hingga membekas.

daun..
aku ingin hijau bersamamu.. berada di puncak tertinggi
tanpa mengenal musim gugur.
sampai kita coklat dengan sendirinya...
kemudian gugur dengan sendirinya...

agar aku layak kau pandangi
agar sampai rinduku di sudut ruang hati
menjelma dan terus mengisi.
jangan payah dengan pura-pura tak mengerti.
Ingat waktu selalu meninggalkan kita
jika kita tak mengambil kesempatan satu sama lain.

Rabu, 30 April 2014

29 30

                                                            Gambar: indonetwork.co.id


29 April 2014

Kau betah sekali.
Aku telah memulai perasaan ini lama sekali.
Kau betah sekali untuk benar-benar tak mempedulikannya.

Akhirnya aku dapat melakukan sesuatu dengan benar..
Kaktusku akhirnya tumbuh dengan baik..
Dia telah kupisahkan dengan sukulennya.. tumbuh seadanya.

Manusia terlahir untuk mencintai,
jatuh untuk mencintai lagi..
patah hati untuk mencintai lagi..
kemudian menyingsingkan lengan untuk jatuh cinta lagi.. berjuang..
kemudian sakit lagi. Mencintai lagi, sakit lagi..

Kamu yang aku lihat, hanya sampai di pelupuk mata. Tak pernah tepat berada dihadapanku.
Maaf aku tak bisa serius untuk tak memikirkan hal anen seperti ini.. maaf..
Aku telah lama belajar, mengulangi, lagi, mengalami, belajar, mengulangi, lagi, mengalami..
Tapi aku tak pernah tau benar bagaimana  caranya mencintai..

Kaktus adalah saksi ketika tiap malam aku merindukanmu..
Kaktus adalah saksi ketika tiap mimpi aku bertemu denganmu..
Semoga dia tak mati.

Aku  mencuri wajahmu dan tak mendapatkan adanya perasaan yang sama disana.
Aku berulang kali memandangimu, diam-diam, dan tak mendapati adanya rindu yang sama..

Wanita hanya bisa menunggu kau tau?
Meski dia berkata lelah menunggu, dia akan selalu menunggu.
Meski dia berkata tak akan lagi rindu, dia memelukmu dalam mimpinya..

Kenyataannya aku tak mendapati apa-apa hari ini..
Kau tak memberikanku pertanda apa-apa..


30 April 2014

Maaf aku terlalu cerewet malam ini..

Aku tidak tau bagaimana memulainya denganmu.. sama seperti ketika aku tidak tau bagaimana cara memulai untuk menjadi penulis profesional, seperti yang kuimpikan.

Dengan kau diam seperti itu, itu sudah cukup untuk mencabik-cabik hatiku.. tapi kau tak paham itu.
Kadang aku canggung ketika berada didekatmu, tapi kadang aku bisa merasa sangat nyaman sekali..

Aku ingin berhenti dan sudahi perasaan yang tak tau arahnya ini.
Tapi memulaipun aku tak pernah.

Entah darimana muncul keyakinan bahwa sebenarnya kau miliki perasaan yang sama.
Aku hanya terus memukul kepalaku dengan memikirkanmu.

Aku menunggumu, terus menunggu, berharap lorong demi lorong, kau dan aku melalui jalan yang sama..
berpapasan.. bertatap muka.. bertegur sapa.. tersenyum.. duduk bersama.. menceritakan hal-hal yang menarik..
Tapi bagimu, hal itu tidak akan pernah kan?
Padahal itu yang paling aku inginkan.


Detik ini aku berjanji untuk berhenti!!!!
Berhenti untuk tidak mencintai seseorang lagi..











Selain dirimu.

Minggu, 13 April 2014

Enough






Persembahkan perasaan kecewa itu, sekali lagi.
Maka itu sudah sangat cukup menghancurkan hatiku.
Baiklah, impian, dapatkah kamu mempertemukanku dengan orang-orang yang benar dimudahkan bagiku?
Awalnya saya percaya, hati-hati manusia tak akan pernah salah memilih. Memilih jalan mana yang dituju, memilih Tuhan yang disembah, memilih agama yang diyakini, memilih lelaki yang mengasihi, memilih teman yang bahkan menyayangi. Hati tak akan pernah salah memilih. Jadi jangan kecewakan lagi hati yang tertambat ini.
Berapa kali lagi?
Mendapatkan harapan sekali lagi, lalu dikecewakan sekali lagi.
Inilah ujian terberat.
Menjadi orang yang benar-benar sendiri.
Apa batasan tak berlaku untuk ujian hidup?
Katanya Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak mampu dipikul oleh hamba-hambaNya..


Melibatkan diri dengan kebaikan, kadang,
Melelahkan juga.
Jadi orang baik memang selalu harus menerima tangisan demi tangisan.
Lumrah orang membalik hatinya, lumrah orang lelah dengan hidupnya. Apalagi jika dilingkupi atmosfer yang sering mengombang-ambingkan perasaan.
Aku bisa kuat pada masalah yang sangat besar sekali.
Tapi pada kerikil sekecil ini, aku terjungkal jauh sekali.
Katakanlah iya, jika memang iya.
Tolong, katakanlah tidak jika memang dari awal tidak.
Jangan dengan mudah membolak-balikkan perasaan.
Akhirnya orang lain kena dampaknya.
Orang lain kecewa, padahal sudah bergantung banyak. Sudah mengikat pinggangnya lebih kencang, memutuskan untuk duduk di sampingmu. Berpikir mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Nyatanya hanya memeluk angin. Tak terasa hangat. Betah dengan dingin.
Kalau tak cukup dengan menjadi orang baik saja.. maka,
Alah. Siapa yang mau peduli.
Jangan percaya lagi pada orang lain, Pit. Bahkan orang yang telah kamu gantungi harapan. Harapan hanya berupa benang yang dikaitkan. Maka mudah sekali untuk dipatahkan.

Saya benci menggantungkan harapan pada orang lain. Sudahlah. Bisa dihentikan?

Jika sendiri saja lebih baik, kenapa tidak?
Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Berjalan tinggal berjalan saja.
Persetan dengan like or dislike. Orang terlahir dengan moral dan rupa yang berbeda.
Ada yang ngelike pasti tak sedikit pula yang ngedislike. Tinggal hadapi, cari apa mau mereka.
Ah, sudah.
Percuma juga. Mereka yang dimaksud juga nggak akan mungkin baca tulisan rewel ini.
Kata cinta juga sama saja.
Menghilangkan hal yang tidak penting seperti itu malah justru susah sekali.

Kenapa saya harus punya perasaan? Kalau perasaan membuat langkah saya patah ditengah-tengah.
Harapan saya juga patah.
Ingin rasanya tahun ini segera berlalu.
Saya ingin cepat lulus. Bosan. Eh, sebenarnya ingin berpaling dari orang-orang ini.
Saya nggak mau capek-capek ngurusin perasaan, ngurusin orang. Memperhatikan kawan bahkan mempertahankannya, kalau kawan itu nggak mau capek-capek minger buat sekilas ngeliat pengorbanan saya, lalu ngapain coba?
Otak saya ini sudah hampir lebur. Kurang koordinasi sama ati.
Saya orang paling cerewet malam ini.
Setidaknya hanya saya yang dapat mendengarkan keluhan ini. Cerewet tanpa suara memang menyakitkan.
Intinya,
Tolong, orang yang saya panggil teman, jangan mengecewakan saya to. Saya tau ini hidup anda dan saya juga punya hidup.
Setidaknya bilang iya kalau memang sejak awal iya.
Konsistenlah.
Tau akibat dari ketidak konsistenanmu?
Orang lain bisa sakit karena itu.
Terlebih penyampaian, dan tutur lembutmu memang kadang melewati batas perasaan yang membentengi orang lain. Sampai orang itu bertekuk lutut sambil tertawa pada hal kecil yang bisa membuat dirinya menangis malam-malam begini.
Tau begitu kan saya nggak perlu susah-susah bercerita lebih dalam tentang siapa saya, dan bagaimana keluarga saya.
Kecewa.
Dan untuk cinta,
Berulang kali. Sakti sekali kan?
Cukup untuk berpusat pada perasaan.
Saya harus belajar, cepat lulus.
SUKSES.

Terimakasih atas pemaklumanmu yang palsu itu.
AHA! Siapa bilang sendiri itu tidak lebih baik?
Dan kamu! Maaf sudah merepotkanmu untuk mendengarkan cerita-cerita yang seharusnya kusimpan sendiri.
Dan untuk KAMU! Maaf sudah lancang mencoba hatimu.
Harusnya saya kapok telah banyak berharap.
Lelaki sepertimu baiknya untuk wanita yang lembut tutur katanya. Tidak seperti ku yang rewel malam ini.
CEPET LULUS PIT! Lupakan kekecewaan di hari ini!

Kamis, 03 April 2014

Salju




Cintaku selembut salju. Ini bukan lagu atau kata-kata dungu. Persembahan dari ketulusan hati paling termahsyur, dan bukan rahasia lagi.

Aku menyukai salju. Meski aku tidak pernah dapat menyentuhnya di negeri tropis ini. 
Aku merasakan dinginnya. Merasuk dan mengawani rinduku. Meski aku tidak pernah sekedar melihatnya turun dihadapan mataku. 

Aku mengerti rahasia di balik putihnya..
Lekat dan suci seperti perasaanku.
Aku jauh dari gambaran tentangmu, tapi aku bisa merasakanmu. Entah ini apa namanya. 

Tanyakan, tempat mana yang paling ingin kamu kunjungi?. Aku akan menjawab, di tempat yang setiap hari dapat menurunkan salju..
Aku tidak melulu harus pergi ke sana..
Dengan kau membawakan segenggam saja, sudah akan sangat membantuku meringankan rindu ini. 

Rabu, 26 Maret 2014

Hanya, kita..

Rabu.
Aku tidak mengatakan hari ini lebih baik atau lebih buruk daripada kemarin. Karena aku leluasa menyiksa diriku dengan menahan perasaan tak karuan ini. Aku tidak mengatakan aku bahagia atau sebaliknya. Karena aku leluasa memberi dan berharap banyak. Aku mencoba menetralisir perasaan janggal ini dengan bersikap biasa, cuek, tak peduli, berpura-pura tak melihat, berpaling, menghidar, menolak, menahan, tak banyak bicara, tapi sialnya tetap tak bisa.

Aku yang telah sombong dengan waktu, kini dapatkan ganjarannya. Aku harus tahan rindu ini. Harus.

Aku membayangkan punggung itu dapat ku peluk dengan erat dari belakang.. Atau ketika air rasa ini membasahi pipi dia mengusapnya dengan kedua tangan. Tapi, apapun akan percuma.

Bicara mimpi, kuharap kau sejak dulu menginginkanku.
Bicara mimpi, kuharap kau yang pertama ku rengkuh.
Bicara mimpi, kuharap kau yang mendatangi rumahku untuk melamar.
Sayang, mimpi tak bisa bicara sekarang.. Waktu akan menebusnya, nanti.
Hanya, kita, masing-masing sedang berusaha..

Kau curang sekali.
Aku memberitahu perasaanku lewat Oleina Syzygium dan Pertanda lainnya.
Tapi kau tak pernah sakalipun mengatakan, bahwa kau iya.

Curang!

Bagaimana jika hanya aku yang memiliki perasaan ini?
Bagaimana jika rindu ini hanya rindu sepihak?
bagaimana jika kau sama sekali tak pernah berpikiran untuk memikirkanku?

Aku hanyalah hal payah di sini. Mengoar-ngoarkan rindu yang menggebu. Tanpa saling paham karena waktu masih saja memusuhiku.

Selasa, 25 Maret 2014

Oleina Syzygium






Aku membandingkan pertemuan kita dengan Oleina Syzygium. Kau dapat kulihat dimanapun berada. Keberadaanmu tulus mengawani. Aku merasa tenang memandangmu, meski dari balik punggungmu yang besar itu. Aku murni wanita yang tak tahu apa-apa tentang prinsip, terutama prinsipmu itu. Saat menuliskan ini sungguh, aku sedang membutuhkan engkau ada disisi. Aku menangis lagi, maaf. Aku merindukan seseorang, tapi bukan dirimu.

Aku merindukan ibuku. Terakhir ku tinggalkan beliau dalam keadaan sakit. Aku anak yang buruk sekali. Hanya bisa menyusahkan. Menyibukkan diri dengan hal duniawi yang tak penting.

Aku manyayangi mu bu, aku
aku
paham betul yang kau rasakan. Sungguh, kalau aku bisa, ku gantikan susahmu, keringatmu, kepayahanmu, perjuanganmu. Engkau yang mulai keriput itu..
Lama-lama akan melemah juga. Aku paham konsep ini.

Allah selalu bersama kita, keluarga kita. Membersamai kita.
Aku disini bu, berjuang untuk menjadi anak yang dimuliakan.
bukan anak yang selalu mengecewakanmu...

Yah, ayah..
Seberapa besar rasa benci ayah kepada ibu, aku yakin masih lebih banyak rasa sayang ayah dari pada rasa benci itu tadi.
Aku mengagumi ayah sebagai sosok ketegaran yang tegas.


Kak,
aku adalah orang yang paling bahagia.
Alasannya sederhana.. Aku memilikimu. Selamat, kau akan segera berkeluarga..
Aku akan menyusulmu segera setalah mensukseskan diri :)

Kembali lagi kutujukan untukmu, Oleina Syzygium..
Semoga kau tak bosan dengan kata-kata cintaku..
dengan perhatianku..

Aku murni berharap menjadikanmu sebagai sandaran ketika aku sampai di titik ini..
Aku keluh dan penuh asa.
Kuharap dapat berjuang bersama keringatmu di lembaran dan cerita yang lain.
Aamiin.

Rabu, 12 Maret 2014

Tidak untuk dilewatkan..

Rintik kecil akhirnya basahi bumi Jogja.
Dia menangis karena tahu aku sedikit tak enak badan.

Semoga perjuanganku untuk kalian tak akan pernah salah.
Aku membersamai kalian, meski benar-benar jarang benderang.
Aku jarang terlihat bukan?

Kepalaku ingin sekali ku letakkan seharian di kamar. 
Ingin rasanya mempunyai alasan untuk selalu bertemu dengan kalian.

aku sama sekali tak keberatan dengan keputusan yang ku buat sendiri.
Belajar kuat hanya, membuat sesuatu semakin berusaha menumbangkan.

Adek-adekku, aku tak mungkin salah memilih kalian, karena orang yang memilihku juga tak mungkin salah memilihku untuk mendampingi kalian.
Kawan juang ku, aku beribu-ribu kali mengucap syukur, atas keberadaan kalian di samping ku..
Sungguh bukan apa-apa wanita sepertiku tanpa kalian berempat.

***
dan untuk kau yang sangat susah sekali ku temui,
Aku hanya melihat punggung mu beberapa detik hari ini..
Aku kangen.

Aku semakin tahu sifat asli mu, kelebihanmu, kekuranganmu, dan telah banyak menemukan perbedaan di antara kita..
tapi yang menarik,
tidak ada sedikitpun niat bagi ku untuk, MELEWATKANMU!
Aku semakin yakin, aku tak mungkin salah dengan perasaan seistimewa ini.

Semoga kita berjodoh, 
aku sedang berjuang untuk menyempurnakan diri, agar aku layak berada di sampingmu ketika waktu yang indah itu tiba.

Aku kangen.
Terimakasih telah memperhatikanku akhir-akhir ini. (Meskipun aku tidak tahu kebenaran dari kalimat terakhir ini)

Kita berbeda, tapi karena beda itu lah kita dipersatukan. Aamiin.
Kuatkan pundakku lewat perhatian yang kecil-kecil itu.