Jumat, 30 Januari 2015
Berjarak, Mencetak Sejarah Baru, Ingatlah Selalu!
DIVISI
PENGEMBANGAN MEDIA DAN WAWASAN ILMIAH
HIMA
PPB FIP UNY
PERIODE
2014
“You
were born to be REAL, not to be PERFECT”
“Don’t
judge the book by its cover, because if you judge the book by its cover you
might missing out an amazing story”
Payung
itu kini sudah tidak peyok lagi. Payung itu kini melindungi segenap jiwa dengan
bersedia menerima pukulan-pukulan hujan yang demikian lebat. Payung itu kini
sudah tidak peyok lagi. Musim hujan yang panjang telah beralalu, kemarau menyapa
dalam doa dan pengharapan untuk langkah di masa depan. Payung itu kini tak
digunakan lagi. Payung itu kini tak akan disapa lagi.
Payung itu telah berganti
dengan yang baru.
Kemarau
yang menggigit, meninggalkan musim hujan yang menggigil.
Pengganti!
Bukan masalah musim hujan atau kemarau.
Pesanku:
Agar kalian menggunakan payung dengan bijak ketika kemarau pun penghujan,
jangan biarkan dia peyok karena terlalu berat menopang ketidakmampuanmu
berpikir dan merasakan ketulusan, kebaikan, dan kebenaran.
Bersiaplah
para pengganti...
Tidak
ada yang menyangka saya akan terlibat sebegitu dalam dengan dunia organisasi.
Dua periode pengurusan rasanya tidak akan pernah cukup bagi saya untuk
menyelami makna organisasi. Mulus perjalanan menuju Roma. Banyak rute yang harus
ditempuh, tapi rute yang saya pilih jauh berbeda daripada orang-orang pada
umumnya. Lebih rumit daripada orang-orang disekitar saya. Tidak ada yang
menyangka berada dalam kotak tak lebih dari 4x4 meter bisa mengubah hampir
seluruh hidup saya. Ada yang menyemangati, ada yang menjatuhkan semangat, ada
pula yang terus menjaga semangat untuk tak lelah menjalani roda kepemimpinan di
Divisi PMWI. Kawan-kawan 2012, kalian seperti vitamin yang membuat saya
memiliki kemampuan untuk bergerak lebih cepat dan dinamis. Kalian seperti
aspirin yang meringankan sakit ketika migrain menyerang. Kalian seperti oase di
padang pasir yang tandus. Tanpa kalian, bagaikan tanpa air. Tak mungkin akan
dapat melalui perjalanan panjang ini. Terimakasih..
Amanah
tidak akan jatuh pada pundak yang salah. Kekuatan dari kalimat ini entah
seberapa besar, tapi yang jelas, ia memunculkan harapan baru pada masa jabatan
saya yang telah mencapai puncaknya ini. Dua periode kepengurusan bukan waktu
yang singkat, bukan juga tanpa makna. Seluruh perihal kehidupan semenjak saya
menjadi pengemban amanah di HIMA telah memberikan banyak sekali pelajaran.
Tentang pentingnya napas, pentingnya bernapas, dan pentingnya memberikan napas.
Terimakasih
kepada kakak-kakak Pengurus HIMA tahun 2013. Juga terimakasih kepada semua
kalian Pengurus HIMA tahun 2014. Maaf untuk tidak dapat membelah diri menjadi
dua. Komitmen adalah bekal saya. Tidak nampak bukan berarti saya tidak bekerja.
Muluk untuk menjelaskan maksud. Naik, turun tangga tidak menjadi masalah yang
menjadi beban, ketika komitmen itu telah buru-buru terucap di awal perjalanan. Saya
bukan manusia sempurna yang menjelma menjadi nabi, saya hanya manusia yang
menuju menjadi sempurna. Maafkan jika banyak salah, namanya juga manusia.
Kondisi Umum
Divisi
PMWI (Pengembangan Media dan Wawasan Ilmiah) merupakan devisi yang bertugas
untuk mengembangkan bakat, minat dan potensi mahasiswa Bimbingan dan Konseling
di bidang Media dan Wawasan Keilmiahan. Divisi PMWI memberikan ruang dan tempat
seluas-luasnya untuk mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang kreatif, memiliki
banyak ide, gila diskusi, suka bekerja, ingin tahu lebih banyak informasi,
menyebarluaskan informasi, menuangkan idenya dalam bentuk karya baik gambar
maupun tulisan dan memiliki program kerja sebagai penggerak massa dalam
bertukar pikiran agar tercipta perubahan yang lebih baik. Devisi PMWI tempat
menguji daya cipa, rasa, karsa mahasiswa Bimbingan dan Konseling dan
mengeksplorasi kemampuan diri sedalam-dalamnya. Devisi PMWI merupakan pencetus
pemikiran yang baru, hangat dan menginspirasi.
Kondisi Internal
Ungkapan
HIMA adalah keluarga, bukan ungkapan gombal, akan tetapi ungkapan yang telah
mendarah daging dan terbukti kebenarannya. Himpunan adalah tempat meluapkan
rasa bersama dan bertukar cerita. Himpunan adalah tempat mengeksplorasi diri
dan tempat mengembangkan diri. Himpunan adalah tempat kita mengenali siapa kita
dan lingkungan baru kita. Himpunan ini memiliki Divisi Pengembangan Media dan
Wawasan Ilmiah yang terdiri dari:
Kepala Divisi: Pipit Septiani
Ucapan
terimakasih ini ingin sekali saya haturkan sejak pertama saya mengemban amanah.
Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya tanam, siram setiap hari agar
tumbuhnya subur dan nampak kesegarannya setiap hari. Ucapan terimakasih ini
ingin sekali saya haturkan kepada sosok yang telah mempercayakan amanah ini.
Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya haturkan kepada sosok yang telah sabar
menerima absen saya, sosok yang telah bijak memandang organisasi yang
dipimpinnya. Terimakasih Wildan Isnaini Yahya. Saya bukan siapa-siapa tanpa
seorang Wildan. Ketidakbijakan saya mungkin telah melukainya, bersyukur
sosoknya adalah sosok yang pemaaf dan dapat melihat satu hal dari berbagai
sisi. Salut! Saya angkat topi untuk keberhasilannya mengendarai HIMA.
Maaf
apabila diri ini tidak mendaya ketika yang berbaur tak lagi murni melengkapi.
Maaf apabila, terkesan menduakan atau men-tiga-kan urusan sepenting ini. Maaf
apabila kata dan hati bersatu maksud, tetapi dalam penyampaiannya tidak berkenan
di mata teman-teman sekalian. Maaf untuk tidak memberikan sepenuhnya,
seluruhnya. Karena sebagian alasan, memang tidak butuh untuk diungkapkan. Maaf
untuk telah mencederai kehadiran dengan berbagai macam kesibukan. Bagi saya,
belajar adalah proses mendewasakan diri. Belajar adalah mengenali sekitar dan
memperluas jangkauan. Belajar adalah lebih banyak salahnya daripada benarnya,
belajar adalah lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Belajar adalah
proses menyakitkan yang membuat kita menemu hikmah. Belajar adalah perjalanan
panjang tiada henti, dari mulai ditiupkannya ruh sampai mata terpejam nanti.
Ini adalah alasannya. Jika mengekang diri di situ-situ saja, saya tidak akan
pernah belajar. Butuh “bersama orang yang tepat di tempat yang tepat”, untuk
membantu kita tumbuh berkembang.
Tidak
ada ketidaksengajaan yang disengaja, atau kesengajaan yang ditidaksengajakan.
Semua bukan kebetulan, tapi memang sudah digariskan sejak awal; bahwa kita akan
bertemu.
Rufaida Dwi Nurani
Hal
yang kecil terkadang sengaja diabaikan, sengaja dikesampingkan, sengaja
disingkirkan. Tapi tidak dirimu, adik yang mbak anggap sebagai adik paling kecil.
Justru dari hal kecil-kecil darimu dik, mbak jadi melihat sesuatu yang melebihi
kesempurnaan. Hal kecil-kecil yang dirimu luapkan adalah bentuk kesetiaan tiada
banding. Mbak meliat perjuangan yang tak pernah orang lain lihat. Pada awal
kepengurusan HIMA 2014, mbak melihat semangat yang terpancar darimu yang
mungkin orang lain tidak lihat. Kehadiran adalah bentuk kesetiaan yang tidak
tergantikan. Terimakasih untuk terus berproses. Kita kini adalah bahan
reflesksi. Untuk adik-adikmu yang akan melanjutkan langkah kakak-kakakmu yang
sudah semakin patuh pada waktu untuk mengucapkan “Selamat Tinggal”. Bukan
berarti kita tidak akan berjumpa lagi, kita bernegoisasi dengan waktu dan
membentuk kata ‘sepakat’ untuk saling bertukar cerita, kapan pun, dan dimana
pun. Saling belajar dan membelajarkan. Indah bukan?
Hana Gilang Sukmawati
Hana.
Warna kesukaanmu apa? Lagu kesukaanmu apa? Makanan favoritmu apa? Buku yang
paling kau suka? Kapan kita ringan berbincang tentang hal-hal yang paling
sering orang lakukan? Payah sekali aku ini. Hana pantas untuk menjadi kakak,
eh, tapi jika ingin bertukar peran menjadi seorang adik, bukan masalah. Kita
masih pantas dibilang keluarga kan? Meskipun kakakmu ini sering
ngilang-ngilang, dan lupa menyapa ketika berpapasan di jalan, atau ketika kamu
sedang mengobrol ringan dengan teman-teman yang lain di depan kantin, tapi
ingin rasanya mengenal sosokmu lebih dekat.
Kakakmu
ini seorang cenayang, mau bukti? Kalau kuat bilang kuat. Kalau sakit bilang
sakit. Kalau keberatan bilang keberatan. Kalau tidak bisa katakan tidak bisa.
Jangan bohongi kami dengan tubuh sok kuatmu itu. Belajarlah untuk bisa
dimengerti orang lain. Jangan hanya kamu saja yang boleh mengerti orang lain.
Ijinkan saya dan teman-teman untuk mengerti kamu juga. Terimakasih untuk
kehadiranmu selama ini.. Maaf untuk tidak bisa menjadi orang paling nyaman jika
saja seharusnya begitu. Selamat melanjutkan pilihan.. kemana pun kamu nanti,
semoga orang-orang disekitarmu lebih bisa merengkuh dan menjagamu dalam
kehangatan suasana keluarga dalam organisasi.
Khilsa Azkania
Pernah
dengar lagu instrumental “river flows in you” milik Yiruma? Khilsa, lagu itu
metafora-mu. Seorang Khilsa yang sangat pendiam. Saya rasa semua orang juga
begitu ketika baru mengenal. Awalnya sangat pendiam. Lagu river flows in you awalnya juga pelan sekali. Sang pianis sengaja
ingin memberikan kejutan pada reff-nya. Dan benar! Kamu mengejutkan. Sama
seperti river flows in you. Saya
melihat sosok motivator yang mengagumkan pada seorang Khilsa. Orang lain
mungkin belum melihat itu. “Sungai
mengalir dalam dirimu..” benar, kamu itu seperti kekuatan dalam arus air
sungai. Tidak akan nampak karna bening airnya. Tidak mengandung rasa rasa juga.
Tidak peduli batu, kerikil, ranting pohon jatuh dan mengotorimu,
menghentikanmu, kamu akan terus mengalir dengan derasnya. Membuat arus yang
mengantarkan orang-orang menuju tempat kemana-ia-ingin menuju. Kakakmu yang
satu ini memang tidak pandai merangkai kata-kata menjadi lebih sederhana.. maaf
membuat bingung dan semakin sulit. Terimakasih atas segala bantuanmu Cak..
mulai dari menjaga teman-teman yang lain, membereskan laporan
pertanggungjawaban yang khayal untuk disentuh.. terimakasih telah menjadi
sekertaris yang baik. Semoga dirimu bisa mengantarkan adik-adik menuju ke
tempat kemana-ia-ingin-menuju.
Azkia Risky Amalia
Kenapa
PMWI? Mungkin kamu masih belum menemu jawab. Kenapa juga harus kamu? Kakakmu
ini juga belum menemukan jawabannya. Menyenangkan bukan menjadi bagian dari
kami? Hal-hal kecil bisa kita banggakan bersama, misalnya majalah dinging tiga
dimensi yang kita buat tidak dalam waktu yang singkat itu. Maaf dulu sudah
ngotot-ngotot untuk segera memperbaiki mading yang rusak. Cantik ya? Memoar
kenangan masa lalu pada saat kita kelaparan di sekre HIMA, bikin mading segede
gambreng dan kemudian tertawa bebas bersama. Adik yang satu ini memang paling
sensi kalau sudah kelaparan. Bukannya apa, pasti bakal merindukan mimikmu yang
kadang menjengkelkan. Hati-hati dengan wajah jutek-mu itu dek, berapa orang
yang sudah kamu bikin kangen dengan itu?
Azkia
ini cerdas. Dia lugas, dan kalau sudah mempunyai keinginan, dia “harus!”,
karena tekadnya yang kuat. Masih ingat ketar-ketirnya kami ketika mendengar
berita kalau kamu ikut Seleksi Bersama Masuk PTN? Dulu saya takut sekali tidak
ada lagi yang membuat suasana di Hima lebih hidup lagi karena tidak ada anak
yang satu ini. Saya tidak pernah mendoakan agar kamu tidak diterima SBMPTN ya..
saya hanya mendoakan untuk yang terbaik.
Terimakasih telah menjadi bagian yang paling sempurna dalam perjalanan
menemukan jawaban.. semoga Azkia lebih bijak dalam membersamai adik-adik Azkia
nanti dan lebih jarang menampilkan wajah unmood-nya.
Indita Ika Noviana
Jangan
takut kehilangan, takutlah ketika kamu tidak dapat menempatkan barang-barang
pada tempat yang seharusnya. Karena nanti ketika ada orang yang susah-susah mencari,
dia tidak menemu karena lupa menaruh barang-barang dari tempat yang semestinya.
Indita
ini, seperti tombol on-off. Ketika tidak di mode on-kan dia akan diam, seperti
orang yang tersesat di kebun tetangga. Ketika di mode on-kan dia akan gesit
sekali dan bergerak tanpa henti. Kadang dia juga mudah di mode off-kan
semangatnya. Tapi, ini tidak boleh lagi terjadi ketika nanti, Indita sudah
mempunyai adik-adik yang butuh untuk diajak belajar bersama. Bangun kehangatan
keluarga di HIMA, jangan jatuhi mereka dengan tanda-tanda kelemahan dari air
mata, tapi jatuhi mereka dengan semangat mengukir karya dan berikan ruang bagi
mereka untuk bergerak lebih leluasa.
Selalu
sehat ya Dit, jangan lupa makan. Makan harus tiga kali sehari. Minimal dua kali
sehari. Tidak boleh terlalu memaksakan diri. Tidak boleh terlalu mengambil
pusing masalah yang sedang kamu hadapi. Terimakasih untuk bisa menjadi yang
di-tua-kan. Maaf jika mbak bekerja kurang maksimal, sampai jumpa!
Azis Suryaman
Siapa
Azis Suryaman? Siapa yang kenal Azis Suryaman? Mendengar kata-kata seperti itu
seperti mendengarkan, “Apa itu PMWI? Siapa yang tahu PMWI?”. Lucu sekali. Alam
mendengar, Dia menilai. Tidak mungkin yang pantas akan tersisihkan. Tidak
mungkin yang rindu kemenangan akan terbuang ke selokan. Akan ada titik jenuh
yang dialami oleh seseorang pada masa-masa tersibuknya. Semua orang mengalami.
Pada saat itu siapapun tidak boleh mengeluh, lalu protes kepada
Yang-Punya-Hidup agar keadaan berbalik, jika tidak dia akan kabur, memisahkan
diri, menghindar, melakukan apapun sebebas-bebasnya. Karena apa yang kita alami
sekarang adalah proses belajar yang mahal. Apa yang kita lihat akan menjadi
kenangan sedetik kemudian. Apa yang kita bangun akan menjadi peninggalan,
milidetik kemudian. Dan, apa yang lebih penting daripada Jejak? Satu-satunya
alasan kenapa keringat mencucur lebih deras. Satu-satunya alasan kenapa langkah
kaki melangkah lebih cepat dari biasanya. Tak perlu banyak orang yang tahu.
Tapi seorang Azis harus tahu, bahwa penting untuk membuat kesan melalui
jejak-jejak yang membuat HIMA harum namanya.
Jaga
lima waktumu, jaga amanahmu. Panjang lebar orang-orang telah meberikanmu
masukan, opini, fakta-fakta tentang organisasi, silakan pilah mana yang baik
mana yang buruk. Tidak ada orang yang baik atau orang yang buruk. Hanya saja
ada orang yang salah cara dalam menyampaikan maksud. Kalau kakakmu ini termasuk
ke dalam salah satunya maafkanlah.. Kalau tidak, buka mata buka telinga lebih
lebar dari biasanya. Terimakasih telah berusaha menjadi Azis. Sekarang siapa
pun tahu, siapa Azis. Dan selanjutnya tidak usah dijelaskan panjang lebar lagi.
Semua orang tahu apa itu PMWI, apa itu HIMA PPB. Sampai jumpa!
Fajar Ilham
Saya
orang paling merasa beruntung dirimu ada ditengah-tengah kami. Dua tahun
perjalanan harus cukup. Menimbang dan banyak kali bertanya, apa yang membuatmu
pada akhirnya memutuskan untuk bertahan di organisasi ini setelah banyak sekali
bujukan, rayuan dan permohonan? Ah tapi sekarang itu tidak lagi penting.
Terimakasih
telah mau bersama-sama memperbaiki HIMA melalui PMWI. Jangan capek-capek menyapa,
bertukar cerita, memberikan nasehat. Sebenarnya kalau boleh memberitahu, yang
pantas untuk menjadi kepala devisi dan membersamai adik-adik 2013 adalah Fajar.
Laki-laki akan lebih kuat daripada perempuan. Laki-laki tidak akan mudah
mencampuradukkan urusan organisasi dengan perasaan-perasaan yang membuatnya
bekerja tidak profesional. Dia cerdas, lebih kerja ekstra keras, bisa melampaui
target-target, dan menguasai bidang-bidang ke-PMWI-an. Tahu? Ketika mendengar
berita bahwa kamu akan keluar dari PMWI rasanya muaangkel. Siapa nanti yang
akan memimpin PMWI? Akhirnya saya yang kena. Tapi saya bersyukur, kalian tetap
mengiringi dan tak berpaling dari manapun. Eksistensi yang membanggakan.
Terimakasih. Maaf untuk tidak membiarkanmu pergi. Karena adik-adik PMWI dan
kami benar-benar membutuhkanmu. Maaf juga malah saya yang pergi-pergi. Jangan
salahkan orang yang baru belajar ini. Fajar, masih ingat kata mas Dedi? “Tak
selalu nampak tapi selalu ada. Seperti bintang”. Terimakasih!
M. Ilham Mubarok
Dua
tahun perjalanan baru saya sadari kalau Ilham ganteng. Bukan gantengnya sih
yang penting, tapi kehadirannya yang tak pernah absen dari rapat kecil-kecilan
tidak penting, sampai agenda terbesar organisasi. Tidak ada hubungan sebab
akibat yang tidak mengandung hikmah. Berkat seorang Ilham, musim terberat di
HIMA seolah berlalu tidak ada lagi yang menerpa. Tenaganya.. pikirannya..
hatinya.. kantongnya.. dikorbankan demi meringankan peluh dan beban yang
menggerogoti tulang teman-teman yang lain.
Jaga
lima waktumu, kamu labih ganteng kalau terkena air wudlu. Gimana Ham? Dua tahun
perjalanan, bersama-sama cukup kan buat kita menjadi pribadi yang lebih baik?
Sosok kakak yang wajib untuk dicontoh. Terimakasih sudah menjadi teladan bagi
adik-adik. Maaf untuk tidak bisa memenuhi kehadiran melampaui batas
kehadiranmu. PMWI ini milikmu juga, terimakasih sudah ikut-ikutan menjaganya.
Wahyi Dwi Ulfa
Kalau
di HIMA ada nominasi “Woman of this YEAR” bisa panggil nama Wahyi tiga kali.
Potensi alay-nya yang sudah melebihi kadar maksimal kadang menjengkelkan.
Kadang dirindukan juga. Orang Jawa Timur ini memang frontal kalau menyampaikan
maksud. Tapi saya senang mendengarnya. Membuat kita terus berbenah dan
mencari-cari apa yang salah? Mana yang masih perlu untuk diperbaiki?
Wahyi
Dwi, perjalanan kita dua tahun di HIMA sangat mengandung arti mendalam. Banyak
pelajaran yang bisa saya ambil dari sosok-mu. Tapi bukan alay-nya. Jika manusia
di dunia ini ‘diambil’ dan saya diberikan kesempatan untuk mempertahankan satu
orang saja, Wahyi yang akan saya tunjuk. Dia mempunyai kemampuan memimpin yang
luar biasa. Tegas bukan hanya sok tegas. Pengaruhnya membuat organisasi menjadi
sedap karena dibumbui dengan hal-hal yang luar biasa dan bercampur aduk di
dalamnya. Maka tidak salah kalau banyak mata yang melirik seorang Wahyi untuk
membuat sebuah tempat menjadi lebih terang. Terimakasih Wahyi telah
menyempatkan diri untuk selalu hadir di HIMA dan menemani saya. Maaf untuk
kerja saya yang kurang profesional karena banyak faktor yang kamu pun tahu.
Jangan bosan memberi semangat dan nasehat, bahkan ketika saya sedang buruk
suasana hatinya! Selamat melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang telah
berganti!
Rohmah Nurhuda
Jika
diperkenankan, saya akan mengungkapkan sebuah rahasia. Rohmah bukan perempuan.
Bukan perempuan biasa yang semaunya ada dan semaunya menghilang. Rohmah
perempuan paling kuat karena tidak pernah mengeluarkan air mata untuk hal-hal
cengeng, menguras hati dan menyedihkan sekalipun.
Dia
bukan lampu pijar yang nyalanya terang, lalu memberikan cahaya pada setiap
sudut ruangan. Dia bukan juga lampu kota yang berdiri gagah menjulang lalu
menunjukkan kecantikannya di tengah cahaya remang. Dia lilin yang berpendar.
Selalu ada ketika dibutuhkan, dicari-cari dalam kegelapan, romantis dan
menimbulkan kesan mendalam. Semoga berkenan menjadi teman perjalanan untuk
selalu belajar. Rohmah harus selalu tampil dimana saja. Jangan
tenggelam-tenggelam. Jagalah keceriaanmu kepada setiap wajah yang menyapamu
dari pagi hingga petang. Jangan capek-capek seperti itu! Terimakasih telah acuh
kepada saya, teman-teman yang lain, dan HIMA tentunya. Maaf untuk sikap yang
kadang keterlaluan, kadang berebihan.
Fajar,
Ilham, Wahyi, Rohmah, Rufaida, Hana, Khilsa, Azkia, Indita dan Azis.. Senang
bertemu kalian.. selamat datang dikesengajaan yang di-IKHTIAR-kan.
Saya
manusia yang demikian berusaha mendekati kata sempurna tak pernah lepas dari
salah dan lupa. Mohon maaf bagi banyak hati yang merasa tidak nyaman dengan
sikap, perilaku, tutur kata, dan keras kepalanya saya. Mohon maaf untuk waktu
yang tidak dapat saya manfaatkan dengan baik.
Semoga di tahun-tahun kedepan
HIMA kita akan selalu menjadi HIMA yang terbaik.
Ingat,
bukan hasil yang menentukan keberhasilan kita. Akan tetapi proses belajar yang
panjang dan membelajarkan. Manfaatkan setiap momen kebersamaan, karena ketika
momen itu telah menjadi kenangan kita tidak dapat mengubahnya lagi. Kita adalah
apa yang paling kita inginkan untuk “menjadi”. Dalam proses menemukan jati
diri, ada-ada saya rambu-rambu yang mesti kita patuhi. Ketika kita melanggar,
hukuman membawa hikmah yang begitu berarti. Gunakan agama sebagai pegangan
dalam memberikan kebijakan. Satu kalimat yang semoga dapat menguatkan kalian,
“Dimana bumi berpijak, disana bumi berpihak”. Dimana kalian menepakkan kaki,
disanalah amanah dan tanggung jawab yang besar datang. Bukan untuk menjadikanmu
manusia lemah, akan tetapi untuk menjadikanmu manusia yang kaya akan hikmah.
Para
pengganti, perjalanan kita tidak akan pernah cukup untuk membuat kita menjadi
manusia sempurna. Penting untuk selalu melakukan yang terbaik. Mari kita
berjalan bersama-sama, bukan dengan mata tertutup, tapi dengan mata terbuka
agar kita lebih peka dalam melihat fenomena dan menikmati permainan dunia
dengan segala skenario dan drama. Kebersamaan tidak sesederhana berapa kali
kita bertemu dan bertatap muka, kebersamaan adalah cara kita merasa nyaman
dalam organisasi sesederhana HIMA. Selalu tinggalkan jejak dimanapun kalian
berada! Bertebaranlah dimuka Bumi, biarkan diri menemu lebih banyak lagi makna.
Yogyakarta,
13 Januari 2014
Kepala
Divisi PMWI
Pipit
Septiani
Kamis, 29 Januari 2015
Kisah Inspiratif: "Dibalik Klewer"
Beberapa hari yang lalu
saya mendengarkan kisah miris dari kakak saya yang bekerja di sebuah perusahaan
kredit mobil besar sebagai kasir setoran tunai. Masih ingat kejadian kecil (jika
menurut anda kecil), terbakarnya Pasar Klewer? Ternyata ada tragedi yang
memilukan dibalik peristiwa itu. Cerita ini didengar langsung dari para
pedagang yang memiliki kios di Pasar Klewer dan menjadi korban kerugian yang
sangat besar (mencapai angka 450 juta rupiah).
Malam hari, Pasar
Klewer, pasar yang paling ramai dikunjungi, bahkan peredaran uang perhari
rata-rata 250 juta rupiah, asar yang menjadi pusat tekstil terutama batik
terkenal dan terbesar se-Asia Tenggara dilalap si Jago Merah (Jago Merah-Api
besar, metafora yang sering muncul pada soal-soal bahasa Indonesia Sekolah
Dasar). Peristiwa ini terjadi pada tahun baru 2015, dimana semua pedagang telah
siap menaruh stok barang dagangan lebih banyak daripada hari biasa di
kios-kiosnya.
Saat terjadi kebakaran,
lalu lintas sekitar Pasar Klewer sangat padat. Mengingat di alun-alun kraton
sedang ada Sekaten (pasar malam) yang dipenuhi banyak pengunjung, mobil-mobil
memenuhi jalan, lalu lalang orang berjalan kaki turut membuncahi keramaian,
mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk memadamkan api Pasar Klewer
mengalami kesulitan karena terjebak macet. Ketika mobil pemadam itu tiba, api
sudah sangat membesar dan menyebar, sebelum akhirnya jembatan penghubung antara
gedung 1 dengan gedung 2 dihancurkan. Gedung 2 pun terselamatkan, naasnya,
gedung 1 ludes terlalap ganasnya Jago Merah.
Sebelum terjadi
kebakaran, penduduk sekitar melihat empat orang memasuki pasar tanpa dihadang
oleh satpam yang bertugas. Selang beberapa menit, pasar terbakar. Hal ganjil
ini membuat penduduk sekitar dan pedagang membentuk prasangka buruk. Mengingat,
beberapa tahun silam, peristiwa yang sama terjadi di Pasar “P”, konon pasar itu
dibakar karena para pedagang tidak menerima kesepakatan antara pemerintah
dengan pedagang. Sebelumnya para pedagang di Pasar Klewer mengaku, menolak
instruksi pemerintah untuk merekonstruksi bangunan pasar yang sudah lama
berdiri itu. Awalnya para pedagang juga mengalami ketakutan kalau-kalau mereka
akan bernasib sama seperti peristiwa yang terjadi di Pasar “P”. Namun mengingat
ramainya penjualan ketika musim liburan awal tahun ini menepis ketakutan para
pedagang. Sayang, ketakutan itu malah menjadi kenyataan.
“Orang-orang bilang
saya berdiri di depan kios saya tiga hari tidak beranjak, tidak makan, bahkan
tidak minum, bergerakpun tidak. Saya sudah dipanggil-panggil orang-orang buat
disuruh pulang, tapi katanya saya tidak merespon apapun. Bahkan kalau saat itu ada orang yang mengiris urat nadi saya, mungkin
tidak akan berasa sakitnya. Saya seperti patung. Baru setelah tiga hari
berlalu saya pulang ke rumah dengan sendirinya. Mandi. Kemudian teringat utang
saya di sini (perusahaan kredit mobil), lalu saya ke sini, tempat ini lah yang
pertama saya kunjungi setelah sadar”. Ungkapan panjang salah seorang pedagang
yang mengisahkan ceritanya kepada kakak saya yang bekerja sebagai kasir di
perusahaan tersebut.
Para pedagang melarang
para istri untuk menengok kios mereka. Bisa dibayangkan suasana yang pecah
karena suara tangisan jika para istri melihat betapa malangnya nasib barang
dagangan mereka ketika menjadi sisa-sisa kebakaran.
Pasar sementara yang
dibuat pemerintah sebagai solusi peristiwa tersebut ternyata nihil. Tidak
memiliki dampak menyembuhkan, melainkan malah menoreh luka yang semakin dalam
para pedagang. Para pedagang harus membayar sewa sebesar 2 juta rupiah tiap
bulan untuk sewa kios, belum lagi kios yang disebut pasar sementara itu
ternyata hanya berupa petak-petak. Kebanyakan pedagang memilih melanjutkan
kehidupan dengan memandang ke depan. Mereka sudah tidak bisa lagi merenggut
masa lalu. Mereka berjualan dengan mobil pick-up di pinggiran alun-alun kraton
dengan biaya parkir kendaraan mencapai 25 ribu rupiah per harinya.
“Sama dengan membunuh
orang kecil. Sudah ditindas, diinjak-injak. Ya nggak ada yang mau lah nyewa
pasar sementara 2 juta per bulan. Ini aja dagang
pakai mobil pick-up kita disuruh bayar parkir 25 ribu rupiah per hari. Padahal
bantuan dari pusat angkanya banyak, belum lagi sumbangan dari donatur dan
bank-bank. Entah dikemanakan uang itu. Yang jelas kami tidak merasakan
dampaknya sama sekali. Padahal kami juga harus ngasih upah untuk pegawai, bayar
bensin, bayar sekolah”, lanjut salah seroang pedagang menuturkan keluh kesahnya
di perusahaan kredit mobil tersebut.
“Saya jual mobil Terrios saya, mungkin
harganya sekitar 250 juta rupiah. Bisa buat modal awal lagi. Saya bilang ke
istri saya, daripada meratapi masa lalu kita tidak akan maju-maju. Jual mobil
saja buat modal awal. Kita buka lapak kayak dulu. Dirumah masih ada stok yang
lumayan, bisa nambah modal. Nanti jualnya pakai mobil pick-up kayak
orang-orang. Sedikit-sedikit untungnya dikumpulkan lagi. Nanti juga jadi
banyak. Kita harus pilih mau maju apa nangisin masa lalu. Mau bangun usaha lagi
apa terpuruk. Kita yang menentukan” Ucap salah seorang pedagang dengan penuh
tanda-tanda ketegaran.
Luar biasa kisah
dibalik terbakarnya Pasar Klewer. Mereka yang diberi ujian ternyata bukan
orang-orang yang memiliki nyali biasa saja. Mereka luar biasa. Mereka mampu
bangkit setelah jatuh tersungkur terinjak-injak penguasa. Mereka pedagang yang
pasti akan sukses di masa depan! Motivasi terbesar mereka adalah keluarga.
Mereka harus memulai usaha tanpa bergantung pada kaki para penguasa yang tidak
memiliki nurani. Mereka harus bernegoisasi dengan waktu dan kesempatan baru
untuk mulai menjalani bisnis baru, dari titik minus. Kalian adalah inspirator
sederhana yang membuat saya sebagai pemuda terbakar kembali semangatnya untuk
melakukan pembaharuan. Semangat perubahan! Untuk Indonesia yang berdikari, tak
bersembunyi di balik kaki penguasa tahta. [Pipit Septiani]
Rabu, 19 November 2014
P e r t a n y a a n
Bukannya telah jelas?
Apa dan bagaimana itu tidak mungkin kenapa.
Kapan dimana menjadi apa, dan kapan apa menjadi
bagaimana..
Ini sekali lagi, bukan lagi soal karena.
Serahkan kemelut keraguan dari yang bukan apa-apa,
menjadi sah untuk diliputi rasa aman.
Mulai dari hal yang sederhana saja,
Misalnya menjawab pertanyaan besar, mengapa.
Jika mereka bertanya siapa surga dibalik surga, maka
khalifah yang membela mulut sambil menarik ujung rambut akar dari dalam bumi
lah yang tak hirau ketika harus memantaskan diri dan masuk melalui celah-celah.
Bagaimanapun, apa yang setelah pertanyaan mengapa
tidak bisa menjawab dimana dan kapan akan menjadi “Yang mana?”
Sesudahnya, kami sudah tidak akan ada apa-apa lagi. Sesudahnya,
demi diri otak ini akan kembali bekerja menyusun konsep.
Sejak banyak orang mempertanyakan sajak yang tak
beraturan
Orang-orang dengan membawa kayu bakar pergi ke
tengah untuk menyalakan kehangatan
Orang-orang itu pemilih, terbukti dari cara mereka
menyusun formasi kayu. Paling kuat diletakkan di tengah, paling rentang
diletakkan di atas. Mereka mengusung satu-satu dan meninggalkan yang basah
sendirian. Karna kayu yang basah, tidak bisa menimbulkan api.
Hingga sebagian besar dari ketakutan yang paling
memikat menyeruak. Ubun-ubun seperti sehabis ditempeleng botol soda dan
menimbulkan luka lainnya dari dalam organ hati yang kusam.
Semakin banyak orang yang bertanya, semakin banyak
penjelasan. Penjelasan menyebar ke permukaan. Hingga air yang ditawarkan tak
menjadi solusi kecemasan, akan tetapi buntut dari segala kecemasan.
Dimana kata Tuhan, Surga diletakkan?
Bukannya dibawah kaki beribu, dan ibu yang berkaki?
Dimana kata Tuhan, keikhlasan diletakkan?
Bukannya dibawah ketiak yang selalu menyeimbangkan
suhu badan?
Dimana kata Tuhan, kerinduan dilabuhkan?
Bukannya melingkar di jari manisnya?
Kata bumi, dia mengenang alam dan proses terjadinya.
Aku maunya tak percaya, tapi singgasana melimpahkan
air rasa penuh jawaban dari segala.. kesempatan yang tertinggal, ketakutan,
kesendirian, kekalutan, kerinduan, kebermaknaan dan keterasingan.
Aku maunya tak percaya, tapi langit memproyeksikan
jawaban lewat gulungan awan yang membentuk sederet pernyataan.
Aku hampir-hampir rindu, lagi,
Tapi meski dimana akan berupaya menjadi kapan.
Meskipun, apa yang diidam-idamkan merawat diri untuk
membuntuti bagaimana,
Akan selalu ada kenapa yang terjawab mulus. Menyebar
ke permukaan rasa.
Rabu, 12 November 2014
Hujan Pertama di Bulan November
Merembes akar hijau dedaunan yang tadinya—hembuskan angin
semilir
Teramat detail lirik-lirik ini kusampaikan
Juta kali memangsa lamunanmu dijauh sana tapi tetap tak
temukan aku—kau datang dengan siapapun yang melewatimu
Melaluimu sekilas
Mengabadikanmu selamanya
Pelan, rindu ini bukan lagi memenuhi.. membuncah ke
permukaan. Sampai tak ada lagi ruang, sampai-sampai kejatuhcintaanku tidak ada
maknanya lagi.
Hingga tiada hingga
Tanda baca yang kubuat untuk mengakhiri kalimat juga tidak
bermakna
Hati-hati dengan kerumunan hujan
Mereka melaju memukul dan mengelabuhi mereka-mereka yang
duduk dilatar-latar rumah, menikmati derasnya
Hujan menantang sesiapa yang dengan angkuhnya mematik api
rindu
Kemudian menyuruh mereka maju satu-satu
Jika mereka datang sendirian, gelegar petir kan menyambut
dan meruntuhkan ketangguhan yang mereka banggakan padahal palsu
Sudahlah wanita, yang dengan segala kelemahannya bertahan
ditengah dingin
Sudahlah wanita, yang dengan segala kebingungannya mencari
tanda disesatkan oleh arah mata angin yang tak menentu
Ini kemarau kemarau lugu
Ini penghujan yang terlalu syahdu
Bahkan untuk terpenggal dengan syair rindu
Bahkan untuk tertidur dan menghilangkanmu dari mimpiku
Jumat, 07 November 2014
Dengungan Rasa
Gambar: Kaskus.co.id
Setidaknya ada niatan untuk menunggu
Tak apa walau payah aku memimpikan nyali mu
Tak apa walau kelu rasanya menjatuhi hariku dengan rindu
Sekenal-kenalnya makhluk dengan Tuhan
Keistimewaan esok adalah hal yang jatuh lebih mulia dari
pada kekecewaan yang terpelihara perasaan suci dan dalam.
Berikan satu kali lagi kesempatan untuk melihat, tidak hanya
sentuhan malam, tetapi juga kelembutan pagi
Dingin dan mengharu biru
Satu dua kali ujian tidak apa. Sungguh nyawa makhluk-Mu ini
adalah bukan apa-apa.
Dibandingkan dengan jutaan wajah yang tersapu debu jalanan
gegara dilucuti untuk mencari uang tetapi bukan untuk mengisi perutnya dengan
nasi. Jutaan wajah itu menengadahkan tangan bukan untuk mengisi pundi-pundi
rupiah demi sekolah. Jutaan wajah itu dilucuti oleh orang yang tak pernah
memimpikan untuk bertemu Tuhan.
Tak punya moral humanistik. Jauh lebih bandit daripada
penguntit gepok rupiah dari laci kesejahteraan rakyat. Tapi kebanyakan orang
lebih berteriak kepada kesengajaan yang ditonjolkan di muka umum. Lebih hina
daripada anjing jalanan yang kencing di sembarang wajah.
Satu dua juta kali kegagalan tidak apa, sungguh.
Benar nyawa makhluk-Mu ini adalah butiran nafsu.
Harapan mana bisa dibedakan dengan ambisi dan obsesi. Sekali
dayung ingin tiga empat pulau terlampaui. Tapi, ini sungguh bukan dunia jika
banyak orang menyatakan “hidup selurus-lurusnya, mati tanpa membawa apa-apa”
Lebih mudah melihat kesukaran pada diri sendiri, daripada
memelototkan mata ke arah yang lebih rendah.
Merasa diri paling payah, menderita takdir buruk yang
teramat menyiksa.
Lalu kita lupa sesiapa yang masih berpayung pada rumah
kardus di bawah jembatan? Sesiapa yang masih luntang luntung kelaparan?
Kau pikir makhluk Tuhan itu hanya ada dalam dongeng yang
melambung dengan ending yang bahagia?
Lama tak bersua dengan ajaibnya tangan Tuhan. Semoga
menyentuh mereka-mereka yang butuh hidayah.
Lama tak bersua dengan janji-janji kemuliaan. Semoga
kesejahteraan atas mereka sekalian.
Limpahan karunia tak terkira yang membuat kita berpikir.
Ah, ternyata ini bukan ujian. Ini bukan apa-apa.
Bukan Tuhan mengadzab, bukan Tuhan tak suka dengan kita.
Ini cara Dia mengajari kita, untuk bersyukur.
Dalam kemelut kabut menyesakkan dada. Doa-doa kaum terhasut
tak menjadikanmu lebih terlihat buruk.
Dalam kalut mata-mata mengairi raga dengan kisah sedih tak
tertahankan.
Mulut yang bungkam sebentar lagi akan berteriak. Muka yang
berpaling sebentar lagi akan menghadap. Napas yang serius menjalar, sebentar
lagi akan berhenti tanpa paksa.
Dan kemudian jika sudah tidak ada lagi kemudian..
Impianmu sudah bukan apa-apa lagi Pit.
Ujianmu bukan tentang yang paling diminta Tuhan lagi.
Hanya jika kita tidak mengerti tata bahasa kita bisa saling
memahami lewat rasa.
Dan begitulah Tuhan memberikan isyarat tak berbatas.
Kamis, 09 Oktober 2014
Gerhana Bul(k)an
Sumber foto: lipsus.kompas.com
Jejak-jejak meninggalkan mereka yang mulai berkutat dengan
hari-hari sore
Aku ramah menyambut sesiapa yang datang, meski dalam keadaan
hujan
Aku juga yang akan memasang lilin-lilin kecil agar suasana
tercipta romantis dan menaruh kesan
Aku adil dengan semua yang aku minta pada takdir
Bukannya mauku, adalah mau-Nya juga?
Bukankah apabila aku ingin, Dia akan selalu mendengar?
Aku hampir tak punya protes pada waktu
Tapi karena menunggu adalah bagian terpenting dalam hidup,
maka
Jengah jauh dari kamus hidupku
Aku lelah seharian berada di gedung megah dan hangat
Menyusuri tiap lorongnya lumayan menguras tenaga juga
Saat detik-detik telah meninggalkan
Aku selalu memasang harapan dan tersenyum.. untuk mereka
yang siap menggantikan
Untuk mereka yang siaga dengan perbedaan
Meski aku menangis melihat cerminan diri
Akhirnya aku memasang mata dan tersenyum bahagia,
Karna kita kedatangan tamu yang sangat istimewa,
Para penebar kebahagiaan itu sendiri
Mendebarkan
Aku asli bukan sutradara dan pemilik kehidupan
Bukan pula yang menentukan naskah cerita
Melihat mereka seolah aku melihat kehidupan
Dan mereka menambah keyakinanku akan kuasa Tuhan Yang Maha
Maha
Jejak-jejak yang kebingungan arah setelah lepas tangan
Akan menempuh perjalanan yang sesungguhnya
Bukan terpaku pada rutinitas yang memusingkan lagi
Jejak-jejak yang kebingungan akan menaruh tasnya
dikursi-kursi kampus yang sejak lama ditinggalkan
Aku tidak punya apa-apa untuk ditinggalkan
Sedihku adalah jika aku tak mampu berguna
Bahagiaku adalah melihat kalian mempunyai barisan yang kuat
dan menyala nyata
Aku tidak tahu akan melihat perpecahan atau justru nanti
kalian akan dipersatukan
Bukan Tuhan namanya jika tak punya garis yang disembunyikan
Manusia seperti kita hanya sebatas menduga dan berprasangka
Sedang Tuhan akan menuruti apa yang menjadi prasangka kita
Aku nyala dan rembulan adalah keindahan
Aku suka warna khasnya gerhana dan syahdu malam yang
menerkam
Aku lingkar hitam yang menyusur lalu pergi meninggalkan
bekas bayangan
Aku ramai tapi sebenarnya sepi
Ini pesan yang aku ingin utarakan kepada kalian,
Beberapa hari ini mataku mengamati, daun telingaku menangkap
suara dari bunyi yang terkecil hingga yang terkeras, aku mati-matian menyelinap
dalam tawa-tawa kalian. Dan akhirnya mendapatkan kabar gembira bahwa, kalian
yang menuruti jejak kepergian akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga
daripada emas, yaitu rasa “berharga” itu sendiri.
Jika dalam waktu dekat ini, aku tidak terlihat bermanfaat,
Maka aku ingatkan lagi perjalanan masa lalu. Ketika semua
berkumpul dan menyebut namaku berkali-kali. Aku tidak suka. Benar-benar tidak
suka. Banyak yang lebih pantas menyematkan namanya. Kalianlah yang memilih, aku
hanya menuruti persangkaan kalian, dan apa yang paling kalian sering pikirkan
tentang aku ini.
Jika boleh jujur, aku tidak pernah lelah, meski mata kalian
menangkap kerutan dan garis tawa yang turun.
Amanah tidak pernah salah memilih pundak. Terserah mata memandang garis
lebih lurus atau menuruti emosi dan dugaan yang tak memperbaiki maksud. Aku lebih
suka diam dan canggung jika menyapa kebodohan, daripada berpura-pura suka,
padahal saling memakan yang lain itu menyakitkan.
Setidaknya di dunia ini tersedia banyak pilihan. Aku tidak
tahu kapan bulan memangsa malam lagi, hingga terjadi gerhana. Aku juga tidak
tahu kapan bintang muncul dan tak bersembunyi terus seperti ini.
Biasanya ketakutanku adalah jelmaan dari apa yang akan
terjadi dimasa depan. Maka jika aku tetap bertahan dengan ketakutan, aku
mendapatkannya di masa depan. Jika aku tinggalkan ketakutan dan menguburnya
dalam, aku mendapatkan keromantisan gerhana bulan.
Lain kali, ijinkan waktu membersamai kita dalam tawa
kebahagiaan. Berada diatas angin, duduk bersila dan tertawa-tawa, kita
merangkai kata seadanya, saling berhambur, saling memeluk. Mencipta kebahagiaan
yang telah lama kita impikan, bertukar cerita tentang mimpi-mimpi. Menghadap langit
dan melihat rembulan dimangsa malam. Lalu kita melakukan sholat sunnah bersama.
Saling menatap dan mencium keheningan.
Aku akan berkata aku menyayangi segala hal yang
menempatkanku pada aku di masa ini. Bukan di masa lalu, bukan di masa yang
hendak datang.
Aku akan berkata aku menyayangi segala wajah yang kurindui,
dan membersamai keheningan, hingga masaku menunggu,
Telah habis.
Minggu, 05 Oktober 2014
Ku ambil, ku hilangkan
Sebenarnya aku ini apa?
Titik yang tak terlihat?
Atau
Pecahan kaca yang berceceran.
Ya, bukan aku yang memegang kalian. Bukan aku yang mempunyai hak untuk bertutur lebih banyak. Setidaknya aku berpikir untuk kalian.
Terdengar muluk?
Terdengar bijak?
Kau tau saja aku paling pintar membual.
Hanya yang tak pernah kau tau,
Aku selalu serius memegang komitmen, yang biasa kau sebut prinsip.
Aku punya kabar bahagia, yang biasanya akan aku bagi bersama nama teman yang kupanggil sahabat. Tapi ya, bagaimana lagi.
Kabar bahagia itu akhirnya kutelan sendiri. Biarlah. Jangan tanya apa aku baik-baik saja. Kau tau aku tak akan pernah baik-baik saja.
Aku bukan pencari muka yang ulung,
Tidak pandai bertutur luhur.
Tidak pandai merangkai kata romantis untuk diungkap.
Tidak pandai mengekspresikan perasaan.
Jika aku cinta mungkin kelihatannya aku membenci.
Jika aku peduli mungkin kelihatannya akan seperti orang angkuh.
Jika aku mengatakan pergi mungkin sebenarnya aku selalu ingin berada disamping mereka, karena itu hangat.
Begitulah alasan kenapa aku begini.
Aku bukan pencari muka yang ulung.
Tak pandai mengekspresikan rasa.
Biarlah kata-kata sindir muncul sebagai tanda bahwa aku benci, padahal sebaliknya.
Merindukanmu sebenarnya,
bukankah karena aku berada dilingkunganmu aku menjadi makhluk sesempurna ini?
bukankah karena aku belajar darimu aku menjadi seorang wanita yang sedikit pantas?
Ah mungkin ini mimpi.
Nyatanya kau tidak sungguh-sungguh ingin aku ada.
Nyatanya aku ini kan pengganggu.
Kenapa ini aku sebut rahasia?
Karna siapapun yang aku maskudkan disini, tidak akan pernah membuka tulisan tolol seperti ini. Pengakuan yang kumiliki sendiri.
Jumat kemarin aku tumpah.
bukan karna lelah menghabiskan hari tanpa memejamkan mata, lelah mempunyai perasaan, bahkan lelah menjadi orang baik.
kenapa aku tidak kembali saja ke masa itu?
Masa dimana ada banyak sekali orang yang dengan senang hati menjadi musuhku.
Masa dimana temanku adalah tawa membahana, masa dimana aku tidak bisa melihat kebaikan dan keburukan pada waktu yang bersamaan.
Jumat kemarin aku tumpah. Dan malu pastinya.
Aku lelah mempunyai perasaan. Berdiri di atas kesempurnaan yang sebenarnya membuka kelemahanku.
Aku lelah mencintai dan merindukan.
Aku yang sekali-kali ingin ditunggu, juga lelah menunggu.
Aku menanti musim hujan, tapi dianya tak kunjung datang.
Aku membuka dan yang lainnya menutup.
Bukannya skenario Tuhan menang di atas segala-galanya?
bahkan limpahan Rahmat dan Karunia-Nya menyipitkan mataku seolah ada cahaya yang nyata menyala membuatku terpejam lebih lama.
Perut bagian kanan atasku sekarang sering sakit.
Tapi bukan itu masalahnya,
masalahnya adalah,
kita tidak pernah tau sampai dimana batas usia kita di dunia.
Jika aku begini dan kondisimu lebih baik, maka mohon doakanlah aku agar segera berpangku kesejahteraan yang aku idam-idamkan.
Jika engkau begitu dan kondisiku lebih baik, maka aku akan menikammu dengan banyak sekali doa dan kalimat harapan.
Jika kondisi kita sama-sama baik,
kenapa tidak aku mencoba dan engkau mencoba?
Banyak hal yang ingin aku bagi. Baik berita yang akan menarik senyummu lebih lebar lagi, atau pun berita yang akan membuat kita menangis bersama lagi.
Aku punya semuanya.
Atau, memang lebih baiknya seperti ini?
Bukannya sudah aku bilang, "Aku adalah apa yang paling kalian inginkan untuk menjadi".
Pikiranku kacau. Maaf kalau ini berlebihan. Tapi benar.
Kenapa wanita harus selalu memikirkan perasaan? Kecewa, benci, rindu, cinta, sakit dan bla bla bla
Bolehkah aku mengenang sesuatu yang menyenangkan saja??
Kenapa yang justru kuingat adalah kata-kata yang menyakitkan.
kenapa banyak sekali kenapa di muka bumi ini.
kenapa pada akhirnya semua seindah skenario Tuhan.
Tapi kenapa kita harus dibuat sakit dulu agar mengerti?????!!!
Ah capek!
Kalau seperti ini yang kau inginkan, akan kuturuti!
Aku ini apa untuk siapa?
Langganan:
Postingan (Atom)














