Stars

Bintang adalah nama lain dari keindahan. Bagi siapa yang menguping pada angin yang berbisik takdir kepada sang langit, maka ia akan tahu rahasia besar bintang. Sebagai obat rindu.

Moon

Bulan adalah lambang kesetiaan. Sama seperti bintang ketika mengitari. Ia tak pernah ingkar janji dan akan selalu beredar. Sayang, kadang remang, kadang bersinar terang sekali. Kadang bulat utuh, kadang sabit sekali. Waktu adalah nyali keutuhan. Dimana dia berlindung, disana rahasia hati mengitari.

Rain

Hujan adalah rahasia besar. Tidak ada yang tahu kapan akan tiba dan kapan akan berhenti. Apakah datangya mengundang gemuruh langit atau hanya menyusuri lembut kulit. Tapi kesakitan hujan dapat membuat rindu menyeruak. Tak akan ada yang bisa menolongmu. Selain naungan tinggi dari Sang Maha.

Metamorfose

Kita adalah hasil dari metamorfose. Hanya kita yang tahu, siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses pendewasaan diri kita masing-masing. Bagian dari Rahasia.

Ocean

Tidak ada yang tahu apa yang tersimpan di dalam sana. Entah arus yang mematikan atau ikan-ikan menakjubkan yang tenang berenang.

Jumat, 30 Januari 2015

Berjarak, Mencetak Sejarah Baru, Ingatlah Selalu!

DIVISI PENGEMBANGAN MEDIA DAN WAWASAN ILMIAH
HIMA PPB FIP UNY
PERIODE 2014

“You were born to be REAL, not to be PERFECT”
“Don’t judge the book by its cover, because if you judge the book by its cover you might missing out an amazing story”

Payung itu kini sudah tidak peyok lagi. Payung itu kini melindungi segenap jiwa dengan bersedia menerima pukulan-pukulan hujan yang demikian lebat. Payung itu kini sudah tidak peyok lagi. Musim hujan yang panjang telah beralalu, kemarau menyapa dalam doa dan pengharapan untuk langkah di masa depan. Payung itu kini tak digunakan lagi. Payung itu kini tak akan disapa lagi. 

Payung itu telah berganti dengan yang baru.

Kemarau yang menggigit, meninggalkan musim hujan yang menggigil.
Pengganti! Bukan masalah musim hujan atau kemarau.

Pesanku: Agar kalian menggunakan payung dengan bijak ketika kemarau pun penghujan, jangan biarkan dia peyok karena terlalu berat menopang ketidakmampuanmu berpikir dan merasakan ketulusan, kebaikan, dan kebenaran.

Bersiaplah para pengganti...

Tidak ada yang menyangka saya akan terlibat sebegitu dalam dengan dunia organisasi. Dua periode pengurusan rasanya tidak akan pernah cukup bagi saya untuk menyelami makna organisasi. Mulus perjalanan menuju Roma. Banyak rute yang harus ditempuh, tapi rute yang saya pilih jauh berbeda daripada orang-orang pada umumnya. Lebih rumit daripada orang-orang disekitar saya. Tidak ada yang menyangka berada dalam kotak tak lebih dari 4x4 meter bisa mengubah hampir seluruh hidup saya. Ada yang menyemangati, ada yang menjatuhkan semangat, ada pula yang terus menjaga semangat untuk tak lelah menjalani roda kepemimpinan di Divisi PMWI. Kawan-kawan 2012, kalian seperti vitamin yang membuat saya memiliki kemampuan untuk bergerak lebih cepat dan dinamis. Kalian seperti aspirin yang meringankan sakit ketika migrain menyerang. Kalian seperti oase di padang pasir yang tandus. Tanpa kalian, bagaikan tanpa air. Tak mungkin akan dapat melalui perjalanan panjang ini. Terimakasih..

Amanah tidak akan jatuh pada pundak yang salah. Kekuatan dari kalimat ini entah seberapa besar, tapi yang jelas, ia memunculkan harapan baru pada masa jabatan saya yang telah mencapai puncaknya ini. Dua periode kepengurusan bukan waktu yang singkat, bukan juga tanpa makna. Seluruh perihal kehidupan semenjak saya menjadi pengemban amanah di HIMA telah memberikan banyak sekali pelajaran. Tentang pentingnya napas, pentingnya bernapas, dan pentingnya memberikan napas.

Terimakasih kepada kakak-kakak Pengurus HIMA tahun 2013. Juga terimakasih kepada semua kalian Pengurus HIMA tahun 2014. Maaf untuk tidak dapat membelah diri menjadi dua. Komitmen adalah bekal saya. Tidak nampak bukan berarti saya tidak bekerja. Muluk untuk menjelaskan maksud. Naik, turun tangga tidak menjadi masalah yang menjadi beban, ketika komitmen itu telah buru-buru terucap di awal perjalanan. Saya bukan manusia sempurna yang menjelma menjadi nabi, saya hanya manusia yang menuju menjadi sempurna. Maafkan jika banyak salah, namanya juga manusia.

Kondisi Umum

Divisi PMWI (Pengembangan Media dan Wawasan Ilmiah) merupakan devisi yang bertugas untuk mengembangkan bakat, minat dan potensi mahasiswa Bimbingan dan Konseling di bidang Media dan Wawasan Keilmiahan. Divisi PMWI memberikan ruang dan tempat seluas-luasnya untuk mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang kreatif, memiliki banyak ide, gila diskusi, suka bekerja, ingin tahu lebih banyak informasi, menyebarluaskan informasi, menuangkan idenya dalam bentuk karya baik gambar maupun tulisan dan memiliki program kerja sebagai penggerak massa dalam bertukar pikiran agar tercipta perubahan yang lebih baik. Devisi PMWI tempat menguji daya cipa, rasa, karsa mahasiswa Bimbingan dan Konseling dan mengeksplorasi kemampuan diri sedalam-dalamnya. Devisi PMWI merupakan pencetus pemikiran yang baru, hangat dan menginspirasi.

Kondisi Internal

Ungkapan HIMA adalah keluarga, bukan ungkapan gombal, akan tetapi ungkapan yang telah mendarah daging dan terbukti kebenarannya. Himpunan adalah tempat meluapkan rasa bersama dan bertukar cerita. Himpunan adalah tempat mengeksplorasi diri dan tempat mengembangkan diri. Himpunan adalah tempat kita mengenali siapa kita dan lingkungan baru kita. Himpunan ini memiliki Divisi Pengembangan Media dan Wawasan Ilmiah yang terdiri dari:

Kepala Divisi: Pipit Septiani
Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya haturkan sejak pertama saya mengemban amanah. Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya tanam, siram setiap hari agar tumbuhnya subur dan nampak kesegarannya setiap hari. Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya haturkan kepada sosok yang telah mempercayakan amanah ini. Ucapan terimakasih ini ingin sekali saya haturkan kepada sosok yang telah sabar menerima absen saya, sosok yang telah bijak memandang organisasi yang dipimpinnya. Terimakasih Wildan Isnaini Yahya. Saya bukan siapa-siapa tanpa seorang Wildan. Ketidakbijakan saya mungkin telah melukainya, bersyukur sosoknya adalah sosok yang pemaaf dan dapat melihat satu hal dari berbagai sisi. Salut! Saya angkat topi untuk keberhasilannya mengendarai HIMA.
Maaf apabila diri ini tidak mendaya ketika yang berbaur tak lagi murni melengkapi. Maaf apabila, terkesan menduakan atau men-tiga-kan urusan sepenting ini. Maaf apabila kata dan hati bersatu maksud, tetapi dalam penyampaiannya tidak berkenan di mata teman-teman sekalian. Maaf untuk tidak memberikan sepenuhnya, seluruhnya. Karena sebagian alasan, memang tidak butuh untuk diungkapkan. Maaf untuk telah mencederai kehadiran dengan berbagai macam kesibukan. Bagi saya, belajar adalah proses mendewasakan diri. Belajar adalah mengenali sekitar dan memperluas jangkauan. Belajar adalah lebih banyak salahnya daripada benarnya, belajar adalah lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Belajar adalah proses menyakitkan yang membuat kita menemu hikmah. Belajar adalah perjalanan panjang tiada henti, dari mulai ditiupkannya ruh sampai mata terpejam nanti. Ini adalah alasannya. Jika mengekang diri di situ-situ saja, saya tidak akan pernah belajar. Butuh “bersama orang yang tepat di tempat yang tepat”, untuk membantu kita tumbuh berkembang.

Tidak ada ketidaksengajaan yang disengaja, atau kesengajaan yang ditidaksengajakan. Semua bukan kebetulan, tapi memang sudah digariskan sejak awal; bahwa kita akan bertemu.

Rufaida Dwi Nurani
Hal yang kecil terkadang sengaja diabaikan, sengaja dikesampingkan, sengaja disingkirkan. Tapi tidak dirimu, adik yang mbak anggap sebagai adik paling kecil. Justru dari hal kecil-kecil darimu dik, mbak jadi melihat sesuatu yang melebihi kesempurnaan. Hal kecil-kecil yang dirimu luapkan adalah bentuk kesetiaan tiada banding. Mbak meliat perjuangan yang tak pernah orang lain lihat. Pada awal kepengurusan HIMA 2014, mbak melihat semangat yang terpancar darimu yang mungkin orang lain tidak lihat. Kehadiran adalah bentuk kesetiaan yang tidak tergantikan. Terimakasih untuk terus berproses. Kita kini adalah bahan reflesksi. Untuk adik-adikmu yang akan melanjutkan langkah kakak-kakakmu yang sudah semakin patuh pada waktu untuk mengucapkan “Selamat Tinggal”. Bukan berarti kita tidak akan berjumpa lagi, kita bernegoisasi dengan waktu dan membentuk kata ‘sepakat’ untuk saling bertukar cerita, kapan pun, dan dimana pun. Saling belajar dan membelajarkan. Indah bukan?

Hana Gilang Sukmawati
Hana. Warna kesukaanmu apa? Lagu kesukaanmu apa? Makanan favoritmu apa? Buku yang paling kau suka? Kapan kita ringan berbincang tentang hal-hal yang paling sering orang lakukan? Payah sekali aku ini. Hana pantas untuk menjadi kakak, eh, tapi jika ingin bertukar peran menjadi seorang adik, bukan masalah. Kita masih pantas dibilang keluarga kan? Meskipun kakakmu ini sering ngilang-ngilang, dan lupa menyapa ketika berpapasan di jalan, atau ketika kamu sedang mengobrol ringan dengan teman-teman yang lain di depan kantin, tapi ingin rasanya mengenal sosokmu lebih dekat.

Kakakmu ini seorang cenayang, mau bukti? Kalau kuat bilang kuat. Kalau sakit bilang sakit. Kalau keberatan bilang keberatan. Kalau tidak bisa katakan tidak bisa. Jangan bohongi kami dengan tubuh sok kuatmu itu. Belajarlah untuk bisa dimengerti orang lain. Jangan hanya kamu saja yang boleh mengerti orang lain. Ijinkan saya dan teman-teman untuk mengerti kamu juga. Terimakasih untuk kehadiranmu selama ini.. Maaf untuk tidak bisa menjadi orang paling nyaman jika saja seharusnya begitu. Selamat melanjutkan pilihan.. kemana pun kamu nanti, semoga orang-orang disekitarmu lebih bisa merengkuh dan menjagamu dalam kehangatan suasana keluarga dalam organisasi.

Khilsa Azkania
Pernah dengar lagu instrumental “river flows in you” milik Yiruma? Khilsa, lagu itu metafora-mu. Seorang Khilsa yang sangat pendiam. Saya rasa semua orang juga begitu ketika baru mengenal. Awalnya sangat pendiam. Lagu river flows in you awalnya juga pelan sekali. Sang pianis sengaja ingin memberikan kejutan pada reff-nya. Dan benar! Kamu mengejutkan. Sama seperti river flows in you. Saya melihat sosok motivator yang mengagumkan pada seorang Khilsa. Orang lain mungkin belum melihat itu. “Sungai mengalir dalam dirimu..” benar, kamu itu seperti kekuatan dalam arus air sungai. Tidak akan nampak karna bening airnya. Tidak mengandung rasa rasa juga. Tidak peduli batu, kerikil, ranting pohon jatuh dan mengotorimu, menghentikanmu, kamu akan terus mengalir dengan derasnya. Membuat arus yang mengantarkan orang-orang menuju tempat kemana-ia-ingin menuju. Kakakmu yang satu ini memang tidak pandai merangkai kata-kata menjadi lebih sederhana.. maaf membuat bingung dan semakin sulit. Terimakasih atas segala bantuanmu Cak.. mulai dari menjaga teman-teman yang lain, membereskan laporan pertanggungjawaban yang khayal untuk disentuh.. terimakasih telah menjadi sekertaris yang baik. Semoga dirimu bisa mengantarkan adik-adik menuju ke tempat kemana-ia-ingin-menuju.
Azkia Risky Amalia
Kenapa PMWI? Mungkin kamu masih belum menemu jawab. Kenapa juga harus kamu? Kakakmu ini juga belum menemukan jawabannya. Menyenangkan bukan menjadi bagian dari kami? Hal-hal kecil bisa kita banggakan bersama, misalnya majalah dinging tiga dimensi yang kita buat tidak dalam waktu yang singkat itu. Maaf dulu sudah ngotot-ngotot untuk segera memperbaiki mading yang rusak. Cantik ya? Memoar kenangan masa lalu pada saat kita kelaparan di sekre HIMA, bikin mading segede gambreng dan kemudian tertawa bebas bersama. Adik yang satu ini memang paling sensi kalau sudah kelaparan. Bukannya apa, pasti bakal merindukan mimikmu yang kadang menjengkelkan. Hati-hati dengan wajah jutek-mu itu dek, berapa orang yang sudah kamu bikin kangen dengan itu?

Azkia ini cerdas. Dia lugas, dan kalau sudah mempunyai keinginan, dia “harus!”, karena tekadnya yang kuat. Masih ingat ketar-ketirnya kami ketika mendengar berita kalau kamu ikut Seleksi Bersama Masuk PTN? Dulu saya takut sekali tidak ada lagi yang membuat suasana di Hima lebih hidup lagi karena tidak ada anak yang satu ini. Saya tidak pernah mendoakan agar kamu tidak diterima SBMPTN ya.. saya hanya mendoakan untuk yang terbaik.  Terimakasih telah menjadi bagian yang paling sempurna dalam perjalanan menemukan jawaban.. semoga Azkia lebih bijak dalam membersamai adik-adik Azkia nanti dan lebih jarang menampilkan wajah unmood-nya.

Indita Ika Noviana
Jangan takut kehilangan, takutlah ketika kamu tidak dapat menempatkan barang-barang pada tempat yang seharusnya. Karena nanti ketika ada orang yang susah-susah mencari, dia tidak menemu karena lupa menaruh barang-barang dari tempat yang semestinya.
Indita ini, seperti tombol on-off. Ketika tidak di mode on-kan dia akan diam, seperti orang yang tersesat di kebun tetangga. Ketika di mode on-kan dia akan gesit sekali dan bergerak tanpa henti. Kadang dia juga mudah di mode off-kan semangatnya. Tapi, ini tidak boleh lagi terjadi ketika nanti, Indita sudah mempunyai adik-adik yang butuh untuk diajak belajar bersama. Bangun kehangatan keluarga di HIMA, jangan jatuhi mereka dengan tanda-tanda kelemahan dari air mata, tapi jatuhi mereka dengan semangat mengukir karya dan berikan ruang bagi mereka untuk bergerak lebih leluasa.

Selalu sehat ya Dit, jangan lupa makan. Makan harus tiga kali sehari. Minimal dua kali sehari. Tidak boleh terlalu memaksakan diri. Tidak boleh terlalu mengambil pusing masalah yang sedang kamu hadapi. Terimakasih untuk bisa menjadi yang di-tua-kan. Maaf jika mbak bekerja kurang maksimal, sampai jumpa!

Azis Suryaman
Siapa Azis Suryaman? Siapa yang kenal Azis Suryaman? Mendengar kata-kata seperti itu seperti mendengarkan, “Apa itu PMWI? Siapa yang tahu PMWI?”. Lucu sekali. Alam mendengar, Dia menilai. Tidak mungkin yang pantas akan tersisihkan. Tidak mungkin yang rindu kemenangan akan terbuang ke selokan. Akan ada titik jenuh yang dialami oleh seseorang pada masa-masa tersibuknya. Semua orang mengalami. Pada saat itu siapapun tidak boleh mengeluh, lalu protes kepada Yang-Punya-Hidup agar keadaan berbalik, jika tidak dia akan kabur, memisahkan diri, menghindar, melakukan apapun sebebas-bebasnya. Karena apa yang kita alami sekarang adalah proses belajar yang mahal. Apa yang kita lihat akan menjadi kenangan sedetik kemudian. Apa yang kita bangun akan menjadi peninggalan, milidetik kemudian. Dan, apa yang lebih penting daripada Jejak? Satu-satunya alasan kenapa keringat mencucur lebih deras. Satu-satunya alasan kenapa langkah kaki melangkah lebih cepat dari biasanya. Tak perlu banyak orang yang tahu. Tapi seorang Azis harus tahu, bahwa penting untuk membuat kesan melalui jejak-jejak yang membuat HIMA harum namanya.

Jaga lima waktumu, jaga amanahmu. Panjang lebar orang-orang telah meberikanmu masukan, opini, fakta-fakta tentang organisasi, silakan pilah mana yang baik mana yang buruk. Tidak ada orang yang baik atau orang yang buruk. Hanya saja ada orang yang salah cara dalam menyampaikan maksud. Kalau kakakmu ini termasuk ke dalam salah satunya maafkanlah.. Kalau tidak, buka mata buka telinga lebih lebar dari biasanya. Terimakasih telah berusaha menjadi Azis. Sekarang siapa pun tahu, siapa Azis. Dan selanjutnya tidak usah dijelaskan panjang lebar lagi. Semua orang tahu apa itu PMWI, apa itu HIMA PPB. Sampai jumpa!

Fajar Ilham
Saya orang paling merasa beruntung dirimu ada ditengah-tengah kami. Dua tahun perjalanan harus cukup. Menimbang dan banyak kali bertanya, apa yang membuatmu pada akhirnya memutuskan untuk bertahan di organisasi ini setelah banyak sekali bujukan, rayuan dan permohonan? Ah tapi sekarang itu tidak lagi penting.

Terimakasih telah mau bersama-sama memperbaiki HIMA melalui PMWI. Jangan capek-capek menyapa, bertukar cerita, memberikan nasehat. Sebenarnya kalau boleh memberitahu, yang pantas untuk menjadi kepala devisi dan membersamai adik-adik 2013 adalah Fajar. Laki-laki akan lebih kuat daripada perempuan. Laki-laki tidak akan mudah mencampuradukkan urusan organisasi dengan perasaan-perasaan yang membuatnya bekerja tidak profesional. Dia cerdas, lebih kerja ekstra keras, bisa melampaui target-target, dan menguasai bidang-bidang ke-PMWI-an. Tahu? Ketika mendengar berita bahwa kamu akan keluar dari PMWI rasanya muaangkel. Siapa nanti yang akan memimpin PMWI? Akhirnya saya yang kena. Tapi saya bersyukur, kalian tetap mengiringi dan tak berpaling dari manapun. Eksistensi yang membanggakan. Terimakasih. Maaf untuk tidak membiarkanmu pergi. Karena adik-adik PMWI dan kami benar-benar membutuhkanmu. Maaf juga malah saya yang pergi-pergi. Jangan salahkan orang yang baru belajar ini. Fajar, masih ingat kata mas Dedi? “Tak selalu nampak tapi selalu ada. Seperti bintang”. Terimakasih!

M. Ilham Mubarok
Dua tahun perjalanan baru saya sadari kalau Ilham ganteng. Bukan gantengnya sih yang penting, tapi kehadirannya yang tak pernah absen dari rapat kecil-kecilan tidak penting, sampai agenda terbesar organisasi. Tidak ada hubungan sebab akibat yang tidak mengandung hikmah. Berkat seorang Ilham, musim terberat di HIMA seolah berlalu tidak ada lagi yang menerpa. Tenaganya.. pikirannya.. hatinya.. kantongnya.. dikorbankan demi meringankan peluh dan beban yang menggerogoti tulang teman-teman yang lain.

Jaga lima waktumu, kamu labih ganteng kalau terkena air wudlu. Gimana Ham? Dua tahun perjalanan, bersama-sama cukup kan buat kita menjadi pribadi yang lebih baik? Sosok kakak yang wajib untuk dicontoh. Terimakasih sudah menjadi teladan bagi adik-adik. Maaf untuk tidak bisa memenuhi kehadiran melampaui batas kehadiranmu. PMWI ini milikmu juga, terimakasih sudah ikut-ikutan menjaganya.

Wahyi Dwi Ulfa
Kalau di HIMA ada nominasi “Woman of this YEAR” bisa panggil nama Wahyi tiga kali. Potensi alay-nya yang sudah melebihi kadar maksimal kadang menjengkelkan. Kadang dirindukan juga. Orang Jawa Timur ini memang frontal kalau menyampaikan maksud. Tapi saya senang mendengarnya. Membuat kita terus berbenah dan mencari-cari apa yang salah? Mana yang masih perlu untuk diperbaiki?

Wahyi Dwi, perjalanan kita dua tahun di HIMA sangat mengandung arti mendalam. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sosok-mu. Tapi bukan alay-nya. Jika manusia di dunia ini ‘diambil’ dan saya diberikan kesempatan untuk mempertahankan satu orang saja, Wahyi yang akan saya tunjuk. Dia mempunyai kemampuan memimpin yang luar biasa. Tegas bukan hanya sok tegas. Pengaruhnya membuat organisasi menjadi sedap karena dibumbui dengan hal-hal yang luar biasa dan bercampur aduk di dalamnya. Maka tidak salah kalau banyak mata yang melirik seorang Wahyi untuk membuat sebuah tempat menjadi lebih terang. Terimakasih Wahyi telah menyempatkan diri untuk selalu hadir di HIMA dan menemani saya. Maaf untuk kerja saya yang kurang profesional karena banyak faktor yang kamu pun tahu. Jangan bosan memberi semangat dan nasehat, bahkan ketika saya sedang buruk suasana hatinya! Selamat melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang telah berganti!

Rohmah Nurhuda
Jika diperkenankan, saya akan mengungkapkan sebuah rahasia. Rohmah bukan perempuan. Bukan perempuan biasa yang semaunya ada dan semaunya menghilang. Rohmah perempuan paling kuat karena tidak pernah mengeluarkan air mata untuk hal-hal cengeng, menguras hati dan menyedihkan sekalipun.

Dia bukan lampu pijar yang nyalanya terang, lalu memberikan cahaya pada setiap sudut ruangan. Dia bukan juga lampu kota yang berdiri gagah menjulang lalu menunjukkan kecantikannya di tengah cahaya remang. Dia lilin yang berpendar. Selalu ada ketika dibutuhkan, dicari-cari dalam kegelapan, romantis dan menimbulkan kesan mendalam. Semoga berkenan menjadi teman perjalanan untuk selalu belajar. Rohmah harus selalu tampil dimana saja. Jangan tenggelam-tenggelam. Jagalah keceriaanmu kepada setiap wajah yang menyapamu dari pagi hingga petang. Jangan capek-capek seperti itu! Terimakasih telah acuh kepada saya, teman-teman yang lain, dan HIMA tentunya. Maaf untuk sikap yang kadang keterlaluan, kadang berebihan.


Fajar, Ilham, Wahyi, Rohmah, Rufaida, Hana, Khilsa, Azkia, Indita dan Azis.. Senang bertemu kalian.. selamat datang dikesengajaan yang di-IKHTIAR-kan.

Saya manusia yang demikian berusaha mendekati kata sempurna tak pernah lepas dari salah dan lupa. Mohon maaf bagi banyak hati yang merasa tidak nyaman dengan sikap, perilaku, tutur kata, dan keras kepalanya saya. Mohon maaf untuk waktu yang tidak dapat saya manfaatkan dengan baik. 

Semoga di tahun-tahun kedepan HIMA kita akan selalu menjadi HIMA yang terbaik.

Ingat, bukan hasil yang menentukan keberhasilan kita. Akan tetapi proses belajar yang panjang dan membelajarkan. Manfaatkan setiap momen kebersamaan, karena ketika momen itu telah menjadi kenangan kita tidak dapat mengubahnya lagi. Kita adalah apa yang paling kita inginkan untuk “menjadi”. Dalam proses menemukan jati diri, ada-ada saya rambu-rambu yang mesti kita patuhi. Ketika kita melanggar, hukuman membawa hikmah yang begitu berarti. Gunakan agama sebagai pegangan dalam memberikan kebijakan. Satu kalimat yang semoga dapat menguatkan kalian, “Dimana bumi berpijak, disana bumi berpihak”. Dimana kalian menepakkan kaki, disanalah amanah dan tanggung jawab yang besar datang. Bukan untuk menjadikanmu manusia lemah, akan tetapi untuk menjadikanmu manusia yang kaya akan hikmah.

Para pengganti, perjalanan kita tidak akan pernah cukup untuk membuat kita menjadi manusia sempurna. Penting untuk selalu melakukan yang terbaik. Mari kita berjalan bersama-sama, bukan dengan mata tertutup, tapi dengan mata terbuka agar kita lebih peka dalam melihat fenomena dan menikmati permainan dunia dengan segala skenario dan drama. Kebersamaan tidak sesederhana berapa kali kita bertemu dan bertatap muka, kebersamaan adalah cara kita merasa nyaman dalam organisasi sesederhana HIMA. Selalu tinggalkan jejak dimanapun kalian berada! Bertebaranlah dimuka Bumi, biarkan diri menemu lebih banyak lagi makna.

Yogyakarta, 13 Januari 2014
Kepala Divisi PMWI


Pipit Septiani 

Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Inspiratif: "Dibalik Klewer"


Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan kisah miris dari kakak saya yang bekerja di sebuah perusahaan kredit mobil besar sebagai kasir setoran tunai. Masih ingat kejadian kecil (jika menurut anda kecil), terbakarnya Pasar Klewer? Ternyata ada tragedi yang memilukan dibalik peristiwa itu. Cerita ini didengar langsung dari para pedagang yang memiliki kios di Pasar Klewer dan menjadi korban kerugian yang sangat besar (mencapai angka 450 juta rupiah).

Malam hari, Pasar Klewer, pasar yang paling ramai dikunjungi, bahkan peredaran uang perhari rata-rata 250 juta rupiah, asar yang menjadi pusat tekstil terutama batik terkenal dan terbesar se-Asia Tenggara dilalap si Jago Merah (Jago Merah-Api besar, metafora yang sering muncul pada soal-soal bahasa Indonesia Sekolah Dasar). Peristiwa ini terjadi pada tahun baru 2015, dimana semua pedagang telah siap menaruh stok barang dagangan lebih banyak daripada hari biasa di kios-kiosnya.

Saat terjadi kebakaran, lalu lintas sekitar Pasar Klewer sangat padat. Mengingat di alun-alun kraton sedang ada Sekaten (pasar malam) yang dipenuhi banyak pengunjung, mobil-mobil memenuhi jalan, lalu lalang orang berjalan kaki turut membuncahi keramaian, mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk memadamkan api Pasar Klewer mengalami kesulitan karena terjebak macet. Ketika mobil pemadam itu tiba, api sudah sangat membesar dan menyebar, sebelum akhirnya jembatan penghubung antara gedung 1 dengan gedung 2 dihancurkan. Gedung 2 pun terselamatkan, naasnya, gedung 1 ludes terlalap ganasnya Jago Merah.

Sebelum terjadi kebakaran, penduduk sekitar melihat empat orang memasuki pasar tanpa dihadang oleh satpam yang bertugas. Selang beberapa menit, pasar terbakar. Hal ganjil ini membuat penduduk sekitar dan pedagang membentuk prasangka buruk. Mengingat, beberapa tahun silam, peristiwa yang sama terjadi di Pasar “P”, konon pasar itu dibakar karena para pedagang tidak menerima kesepakatan antara pemerintah dengan pedagang. Sebelumnya para pedagang di Pasar Klewer mengaku, menolak instruksi pemerintah untuk merekonstruksi bangunan pasar yang sudah lama berdiri itu. Awalnya para pedagang juga mengalami ketakutan kalau-kalau mereka akan bernasib sama seperti peristiwa yang terjadi di Pasar “P”. Namun mengingat ramainya penjualan ketika musim liburan awal tahun ini menepis ketakutan para pedagang. Sayang, ketakutan itu malah menjadi kenyataan.

“Orang-orang bilang saya berdiri di depan kios saya tiga hari tidak beranjak, tidak makan, bahkan tidak minum, bergerakpun tidak. Saya sudah dipanggil-panggil orang-orang buat disuruh pulang, tapi katanya saya tidak merespon apapun. Bahkan kalau saat itu ada orang yang mengiris urat nadi saya, mungkin tidak akan berasa sakitnya. Saya seperti patung. Baru setelah tiga hari berlalu saya pulang ke rumah dengan sendirinya. Mandi. Kemudian teringat utang saya di sini (perusahaan kredit mobil), lalu saya ke sini, tempat ini lah yang pertama saya kunjungi setelah sadar”. Ungkapan panjang salah seorang pedagang yang mengisahkan ceritanya kepada kakak saya yang bekerja sebagai kasir di perusahaan tersebut.

Para pedagang melarang para istri untuk menengok kios mereka. Bisa dibayangkan suasana yang pecah karena suara tangisan jika para istri melihat betapa malangnya nasib barang dagangan mereka ketika menjadi sisa-sisa kebakaran.

Pasar sementara yang dibuat pemerintah sebagai solusi peristiwa tersebut ternyata nihil. Tidak memiliki dampak menyembuhkan, melainkan malah menoreh luka yang semakin dalam para pedagang. Para pedagang harus membayar sewa sebesar 2 juta rupiah tiap bulan untuk sewa kios, belum lagi kios yang disebut pasar sementara itu ternyata hanya berupa petak-petak. Kebanyakan pedagang memilih melanjutkan kehidupan dengan memandang ke depan. Mereka sudah tidak bisa lagi merenggut masa lalu. Mereka berjualan dengan mobil pick-up di pinggiran alun-alun kraton dengan biaya parkir kendaraan mencapai 25 ribu rupiah per harinya.

“Sama dengan membunuh orang kecil. Sudah ditindas, diinjak-injak. Ya nggak ada yang mau lah nyewa pasar sementara 2 juta per bulan. Ini aja dagang pakai mobil pick-up kita disuruh bayar parkir 25 ribu rupiah per hari. Padahal bantuan dari pusat angkanya banyak, belum lagi sumbangan dari donatur dan bank-bank. Entah dikemanakan uang itu. Yang jelas kami tidak merasakan dampaknya sama sekali. Padahal kami juga harus ngasih upah untuk pegawai, bayar bensin, bayar sekolah”, lanjut salah seroang pedagang menuturkan keluh kesahnya di perusahaan kredit mobil tersebut.

“Saya jual mobil Terrios saya, mungkin harganya sekitar 250 juta rupiah. Bisa buat modal awal lagi. Saya bilang ke istri saya, daripada meratapi masa lalu kita tidak akan maju-maju. Jual mobil saja buat modal awal. Kita buka lapak kayak dulu. Dirumah masih ada stok yang lumayan, bisa nambah modal. Nanti jualnya pakai mobil pick-up kayak orang-orang. Sedikit-sedikit untungnya dikumpulkan lagi. Nanti juga jadi banyak. Kita harus pilih mau maju apa nangisin masa lalu. Mau bangun usaha lagi apa terpuruk. Kita yang menentukan” Ucap salah seorang pedagang dengan penuh tanda-tanda ketegaran.

Luar biasa kisah dibalik terbakarnya Pasar Klewer. Mereka yang diberi ujian ternyata bukan orang-orang yang memiliki nyali biasa saja. Mereka luar biasa. Mereka mampu bangkit setelah jatuh tersungkur terinjak-injak penguasa. Mereka pedagang yang pasti akan sukses di masa depan! Motivasi terbesar mereka adalah keluarga. Mereka harus memulai usaha tanpa bergantung pada kaki para penguasa yang tidak memiliki nurani. Mereka harus bernegoisasi dengan waktu dan kesempatan baru untuk mulai menjalani bisnis baru, dari titik minus. Kalian adalah inspirator sederhana yang membuat saya sebagai pemuda terbakar kembali semangatnya untuk melakukan pembaharuan. Semangat perubahan! Untuk Indonesia yang berdikari, tak bersembunyi di balik kaki penguasa tahta. [Pipit Septiani]

Rabu, 19 November 2014

P e r t a n y a a n



Bukannya telah jelas?
Apa dan bagaimana itu tidak mungkin kenapa.
Kapan dimana menjadi apa, dan kapan apa menjadi bagaimana..
Ini sekali lagi, bukan lagi soal karena.
Serahkan kemelut keraguan dari yang bukan apa-apa, menjadi sah untuk diliputi rasa aman.
Mulai dari hal yang sederhana saja,
Misalnya menjawab pertanyaan besar, mengapa.


Jika mereka bertanya siapa surga dibalik surga, maka khalifah yang membela mulut sambil menarik ujung rambut akar dari dalam bumi lah yang tak hirau ketika harus memantaskan diri dan masuk melalui celah-celah.

Bagaimanapun, apa yang setelah pertanyaan mengapa tidak bisa menjawab dimana dan kapan akan menjadi “Yang mana?”
Sesudahnya, kami sudah tidak akan ada apa-apa lagi. Sesudahnya, demi diri otak ini akan kembali bekerja menyusun konsep.

Sejak banyak orang mempertanyakan sajak yang tak beraturan
Orang-orang dengan membawa kayu bakar pergi ke tengah untuk menyalakan kehangatan
Orang-orang itu pemilih, terbukti dari cara mereka menyusun formasi kayu. Paling kuat diletakkan di tengah, paling rentang diletakkan di atas. Mereka mengusung satu-satu dan meninggalkan yang basah sendirian. Karna kayu yang basah, tidak bisa menimbulkan api.

Hingga sebagian besar dari ketakutan yang paling memikat menyeruak. Ubun-ubun seperti sehabis ditempeleng botol soda dan menimbulkan luka lainnya dari dalam organ hati yang kusam.
Semakin banyak orang yang bertanya, semakin banyak penjelasan. Penjelasan menyebar ke permukaan. Hingga air yang ditawarkan tak menjadi solusi kecemasan, akan tetapi buntut dari segala kecemasan.
Dimana kata Tuhan, Surga diletakkan?
Bukannya dibawah kaki beribu, dan ibu yang berkaki?
Dimana kata Tuhan, keikhlasan diletakkan?
Bukannya dibawah ketiak yang selalu menyeimbangkan suhu badan?
Dimana kata Tuhan, kerinduan dilabuhkan?
Bukannya melingkar di jari manisnya?

Kata bumi, dia mengenang alam dan proses terjadinya.
Aku maunya tak percaya, tapi singgasana melimpahkan air rasa penuh jawaban dari segala.. kesempatan yang tertinggal, ketakutan, kesendirian, kekalutan, kerinduan, kebermaknaan dan keterasingan.

Aku maunya tak percaya, tapi langit memproyeksikan jawaban lewat gulungan awan yang membentuk sederet pernyataan.

Aku hampir-hampir rindu, lagi,
Tapi meski dimana akan berupaya menjadi kapan.
Meskipun, apa yang diidam-idamkan merawat diri untuk membuntuti bagaimana,
Akan selalu ada kenapa yang terjawab mulus. Menyebar ke permukaan rasa.


Rabu, 12 November 2014

Hujan Pertama di Bulan November




Merembes akar hijau dedaunan yang tadinya—hembuskan angin semilir

Teramat detail lirik-lirik ini kusampaikan
Juta kali memangsa lamunanmu dijauh sana tapi tetap tak temukan aku—kau datang dengan siapapun yang melewatimu
Melaluimu sekilas
Mengabadikanmu selamanya

Pelan, rindu ini bukan lagi memenuhi.. membuncah ke permukaan. Sampai tak ada lagi ruang, sampai-sampai kejatuhcintaanku tidak ada maknanya lagi.
Hingga tiada hingga
Tanda baca yang kubuat untuk mengakhiri kalimat juga tidak bermakna
Hati-hati dengan kerumunan hujan
Mereka melaju memukul dan mengelabuhi mereka-mereka yang duduk dilatar-latar rumah, menikmati derasnya

Hujan menantang sesiapa yang dengan angkuhnya mematik api rindu
Kemudian menyuruh mereka maju satu-satu
Jika mereka datang sendirian, gelegar petir kan menyambut dan meruntuhkan ketangguhan yang mereka banggakan padahal palsu

Sudahlah wanita, yang dengan segala kelemahannya bertahan ditengah dingin
Sudahlah wanita, yang dengan segala kebingungannya mencari tanda disesatkan oleh arah mata angin yang tak menentu

Ini kemarau kemarau lugu
Ini penghujan yang terlalu syahdu
Bahkan untuk terpenggal dengan syair rindu

Bahkan untuk tertidur dan menghilangkanmu dari mimpiku

Jumat, 07 November 2014

Dengungan Rasa


Gambar: Kaskus.co.id


Setidaknya ada niatan untuk menunggu
Tak apa walau payah aku memimpikan nyali mu
Tak apa walau kelu rasanya menjatuhi hariku dengan rindu

Sekenal-kenalnya makhluk dengan Tuhan
Keistimewaan esok adalah hal yang jatuh lebih mulia dari pada kekecewaan yang terpelihara perasaan suci dan dalam.
Berikan satu kali lagi kesempatan untuk melihat, tidak hanya sentuhan malam, tetapi juga kelembutan pagi
Dingin dan mengharu biru

Satu dua kali ujian tidak apa. Sungguh nyawa makhluk-Mu ini adalah bukan apa-apa.
Dibandingkan dengan jutaan wajah yang tersapu debu jalanan gegara dilucuti untuk mencari uang tetapi bukan untuk mengisi perutnya dengan nasi. Jutaan wajah itu menengadahkan tangan bukan untuk mengisi pundi-pundi rupiah demi sekolah. Jutaan wajah itu dilucuti oleh orang yang tak pernah memimpikan untuk bertemu Tuhan.
Tak punya moral humanistik. Jauh lebih bandit daripada penguntit gepok rupiah dari laci kesejahteraan rakyat. Tapi kebanyakan orang lebih berteriak kepada kesengajaan yang ditonjolkan di muka umum. Lebih hina daripada anjing jalanan yang kencing di sembarang wajah.

Satu dua juta kali kegagalan tidak apa, sungguh.
Benar nyawa makhluk-Mu ini adalah butiran nafsu.
Harapan mana bisa dibedakan dengan ambisi dan obsesi. Sekali dayung ingin tiga empat pulau terlampaui. Tapi, ini sungguh bukan dunia jika banyak orang menyatakan “hidup selurus-lurusnya, mati tanpa membawa apa-apa”
Lebih mudah melihat kesukaran pada diri sendiri, daripada memelototkan mata ke arah yang lebih rendah.
Merasa diri paling payah, menderita takdir buruk yang teramat menyiksa.
Lalu kita lupa sesiapa yang masih berpayung pada rumah kardus di bawah jembatan? Sesiapa yang masih luntang luntung kelaparan?
Kau pikir makhluk Tuhan itu hanya ada dalam dongeng yang melambung dengan ending yang bahagia?
Lama tak bersua dengan ajaibnya tangan Tuhan. Semoga menyentuh mereka-mereka yang butuh hidayah.
Lama tak bersua dengan janji-janji kemuliaan. Semoga kesejahteraan atas mereka sekalian.
Limpahan karunia tak terkira yang membuat kita berpikir.
Ah, ternyata ini bukan ujian. Ini bukan apa-apa.
Bukan Tuhan mengadzab, bukan Tuhan tak suka dengan kita.
Ini cara Dia mengajari kita, untuk bersyukur.

Dalam kemelut kabut menyesakkan dada. Doa-doa kaum terhasut tak menjadikanmu lebih terlihat buruk.
Dalam kalut mata-mata mengairi raga dengan kisah sedih tak tertahankan.
Mulut yang bungkam sebentar lagi akan berteriak. Muka yang berpaling sebentar lagi akan menghadap. Napas yang serius menjalar, sebentar lagi akan berhenti tanpa paksa.
Dan kemudian jika sudah tidak ada lagi kemudian..
Impianmu sudah bukan apa-apa lagi Pit.
Ujianmu bukan tentang yang paling diminta Tuhan lagi.
Hanya jika kita tidak mengerti tata bahasa kita bisa saling memahami lewat rasa.
Dan begitulah Tuhan memberikan isyarat tak berbatas.



Kamis, 09 Oktober 2014

Gerhana Bul(k)an


Sumber foto: lipsus.kompas.com


Jejak-jejak meninggalkan mereka yang mulai berkutat dengan hari-hari sore
Aku ramah menyambut sesiapa yang datang, meski dalam keadaan hujan
Aku juga yang akan memasang lilin-lilin kecil agar suasana tercipta romantis dan menaruh kesan

Aku adil dengan semua yang aku minta pada takdir
Bukannya mauku, adalah mau-Nya juga?
Bukankah apabila aku ingin, Dia akan selalu mendengar?

Aku hampir tak punya protes pada waktu
Tapi karena menunggu adalah bagian terpenting dalam hidup, maka
Jengah jauh dari kamus hidupku

Aku lelah seharian berada di gedung megah dan hangat
Menyusuri tiap lorongnya lumayan menguras tenaga juga
Saat detik-detik telah meninggalkan
Aku selalu memasang harapan dan tersenyum.. untuk mereka yang siap menggantikan
Untuk mereka yang siaga dengan perbedaan

Meski aku menangis melihat cerminan diri
Akhirnya aku memasang mata dan tersenyum bahagia,
Karna kita kedatangan tamu yang sangat istimewa,
Para penebar kebahagiaan itu sendiri

Mendebarkan

Aku asli bukan sutradara dan pemilik kehidupan
Bukan pula yang menentukan naskah cerita
Melihat mereka seolah aku melihat kehidupan
Dan mereka menambah keyakinanku akan kuasa Tuhan Yang Maha Maha

Jejak-jejak yang kebingungan arah setelah lepas tangan
Akan menempuh perjalanan yang sesungguhnya
Bukan terpaku pada rutinitas yang memusingkan lagi
Jejak-jejak yang kebingungan akan menaruh tasnya dikursi-kursi kampus yang sejak lama ditinggalkan

Aku tidak punya apa-apa untuk ditinggalkan
Sedihku adalah jika aku tak mampu berguna
Bahagiaku adalah melihat kalian mempunyai barisan yang kuat dan menyala nyata

Aku tidak tahu akan melihat perpecahan atau justru nanti kalian akan dipersatukan
Bukan Tuhan namanya jika tak punya garis yang disembunyikan
Manusia seperti kita hanya sebatas menduga dan berprasangka
Sedang Tuhan akan menuruti apa yang menjadi prasangka kita

Aku nyala dan rembulan adalah keindahan
Aku suka warna khasnya gerhana dan syahdu malam yang menerkam
Aku lingkar hitam yang menyusur lalu pergi meninggalkan bekas bayangan
Aku ramai tapi sebenarnya sepi

Ini pesan yang aku ingin utarakan kepada kalian,

Beberapa hari ini mataku mengamati, daun telingaku menangkap suara dari bunyi yang terkecil hingga yang terkeras, aku mati-matian menyelinap dalam tawa-tawa kalian. Dan akhirnya mendapatkan kabar gembira bahwa, kalian yang menuruti jejak kepergian akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada emas, yaitu rasa “berharga” itu sendiri.
Jika dalam waktu dekat ini, aku tidak terlihat bermanfaat,
Maka aku ingatkan lagi perjalanan masa lalu. Ketika semua berkumpul dan menyebut namaku berkali-kali. Aku tidak suka. Benar-benar tidak suka. Banyak yang lebih pantas menyematkan namanya. Kalianlah yang memilih, aku hanya menuruti persangkaan kalian, dan apa yang paling kalian sering pikirkan tentang aku ini.

Jika boleh jujur, aku tidak pernah lelah, meski mata kalian menangkap kerutan dan garis tawa yang turun.

Amanah tidak pernah salah memilih pundak. Terserah mata memandang garis lebih lurus atau menuruti emosi dan dugaan yang tak memperbaiki maksud. Aku lebih suka diam dan canggung jika menyapa kebodohan, daripada berpura-pura suka, padahal saling memakan yang lain itu menyakitkan.

Setidaknya di dunia ini tersedia banyak pilihan. Aku tidak tahu kapan bulan memangsa malam lagi, hingga terjadi gerhana. Aku juga tidak tahu kapan bintang muncul dan tak bersembunyi terus seperti ini.

Biasanya ketakutanku adalah jelmaan dari apa yang akan terjadi dimasa depan. Maka jika aku tetap bertahan dengan ketakutan, aku mendapatkannya di masa depan. Jika aku tinggalkan ketakutan dan menguburnya dalam, aku mendapatkan keromantisan gerhana bulan.

Lain kali, ijinkan waktu membersamai kita dalam tawa kebahagiaan. Berada diatas angin, duduk bersila dan tertawa-tawa, kita merangkai kata seadanya, saling berhambur, saling memeluk. Mencipta kebahagiaan yang telah lama kita impikan, bertukar cerita tentang mimpi-mimpi. Menghadap langit dan melihat rembulan dimangsa malam. Lalu kita melakukan sholat sunnah bersama. Saling menatap dan mencium keheningan.

Aku akan berkata aku menyayangi segala hal yang menempatkanku pada aku di masa ini. Bukan di masa lalu, bukan di masa yang hendak datang.
Aku akan berkata aku menyayangi segala wajah yang kurindui, dan membersamai keheningan, hingga masaku menunggu,


Telah habis.


Minggu, 05 Oktober 2014

Ku ambil, ku hilangkan



Sebenarnya aku ini apa?
Titik yang tak terlihat?
Atau
Pecahan kaca yang berceceran.

Ya, bukan aku yang memegang kalian. Bukan aku yang mempunyai hak untuk bertutur lebih banyak. Setidaknya aku berpikir untuk kalian.
Terdengar muluk?
Terdengar bijak?
Kau tau saja aku paling pintar membual.
Hanya yang tak pernah kau tau,

Aku selalu serius memegang komitmen, yang biasa kau sebut prinsip.

Aku punya kabar bahagia, yang biasanya akan aku bagi bersama nama teman yang kupanggil sahabat. Tapi ya, bagaimana lagi.
Kabar bahagia itu akhirnya kutelan sendiri. Biarlah. Jangan tanya apa aku baik-baik saja. Kau tau aku tak akan pernah baik-baik saja.

Aku bukan pencari muka yang ulung,
Tidak pandai bertutur luhur.
Tidak pandai merangkai kata romantis untuk diungkap.
Tidak pandai mengekspresikan perasaan.
Jika aku cinta mungkin kelihatannya aku membenci.
Jika aku peduli mungkin kelihatannya akan seperti orang angkuh.
Jika aku mengatakan pergi mungkin sebenarnya aku selalu ingin berada disamping mereka, karena itu hangat.
Begitulah alasan kenapa aku begini.
Aku bukan pencari muka yang ulung.
Tak pandai mengekspresikan rasa.

Biarlah kata-kata sindir muncul sebagai tanda bahwa aku benci, padahal sebaliknya.

Merindukanmu sebenarnya,
bukankah karena aku berada dilingkunganmu aku menjadi makhluk sesempurna ini?
bukankah karena aku belajar darimu aku menjadi seorang wanita yang sedikit pantas?
Ah mungkin ini mimpi.
Nyatanya kau tidak sungguh-sungguh ingin aku ada.
Nyatanya aku ini kan pengganggu.

Kenapa ini aku sebut rahasia?
Karna siapapun yang aku maskudkan disini, tidak akan pernah membuka tulisan tolol seperti ini. Pengakuan yang kumiliki sendiri.

Jumat kemarin aku tumpah.
bukan karna lelah menghabiskan hari tanpa memejamkan mata, lelah mempunyai perasaan, bahkan lelah menjadi orang baik.

kenapa aku tidak kembali saja ke masa itu?
Masa dimana ada banyak sekali orang yang dengan senang hati menjadi musuhku.
Masa dimana temanku adalah tawa membahana, masa dimana aku tidak bisa melihat kebaikan dan keburukan pada waktu yang bersamaan.

Jumat kemarin aku tumpah. Dan malu pastinya.
Aku lelah mempunyai perasaan. Berdiri di atas kesempurnaan yang sebenarnya membuka kelemahanku.
Aku lelah mencintai dan merindukan.
Aku yang sekali-kali ingin ditunggu, juga lelah menunggu.

Aku menanti musim hujan, tapi dianya tak kunjung datang.
Aku membuka dan yang lainnya menutup.
Bukannya skenario Tuhan menang di atas segala-galanya?
bahkan limpahan Rahmat dan Karunia-Nya menyipitkan mataku seolah ada cahaya yang nyata menyala membuatku terpejam lebih lama.

Perut bagian kanan atasku sekarang sering sakit.
Tapi bukan itu masalahnya,

masalahnya adalah,
kita tidak pernah tau sampai dimana batas usia kita di dunia.

Jika aku begini dan kondisimu lebih baik, maka mohon doakanlah aku agar segera berpangku kesejahteraan yang aku idam-idamkan.

Jika engkau begitu dan kondisiku lebih baik, maka aku akan menikammu dengan banyak sekali doa dan kalimat harapan.

Jika kondisi kita sama-sama baik,
kenapa tidak aku mencoba dan engkau mencoba?

Banyak hal yang ingin aku bagi. Baik berita yang akan menarik senyummu lebih lebar lagi, atau pun berita yang akan membuat kita menangis bersama lagi.
Aku punya semuanya.

Atau, memang lebih baiknya seperti ini?

Bukannya sudah aku bilang, "Aku adalah apa yang paling kalian inginkan untuk menjadi".


Pikiranku kacau. Maaf kalau ini berlebihan. Tapi benar.

Kenapa wanita harus selalu memikirkan perasaan? Kecewa, benci, rindu, cinta, sakit dan bla bla bla

Bolehkah aku mengenang sesuatu yang menyenangkan saja??
Kenapa yang justru kuingat adalah kata-kata yang menyakitkan.

kenapa banyak sekali kenapa di muka bumi ini.
kenapa pada akhirnya semua seindah skenario Tuhan.
Tapi kenapa kita harus dibuat sakit dulu agar mengerti?????!!!


Ah capek!
Kalau seperti ini yang kau inginkan, akan kuturuti!
Aku ini apa untuk siapa?